Papua Barat

Diusung Rekan Bea Cukai, Aresty Pulang ke Tanah Kelahiran dalam Duka

1120
×

Diusung Rekan Bea Cukai, Aresty Pulang ke Tanah Kelahiran dalam Duka

Sebarkan artikel ini
Pegawai Bea Cukai mengusung keranda jenazah almarhumah Aresty Gunar Tinarga saat tiba di pemakaman umum Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Rabu (12/11/2025). Prosesi ini menjadi bentuk penghormatan terakhir rekan-rekan seprofesi terhadap istri Amri Hidayat, pegawai Bea Cukai Pusat yang sedang bertugas di KPP Pratama Manokwari. FOTO:TANGKAPAN LAYAR KABARBAIK.COM

PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Langkah para pegawai Bea Cukai tampak berat ketika memikul keranda kayu berisi jenazah Aresty Gunar Tinarga 38 tahun.

Baca juga: Pembunuhan Istri Pejabat KPP, Kapolresta: Tidak Ada Indikasi Asusila Terhadap Korban

Almarhuma Aresty Gunar Tinarga selain ibu rumah tangga almarhuma pernah bekerja di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang masih dibawa Kementrian Keuangan.

Dari rumah duka di Perumahan BTN Asabri, Kelurahan Gedog, Sananwetan, Kota Blitar, mereka mengiringi setiap langkah menuju mobil jenazah.

Sorot mata mereka basah, seolah turut memikul luka yang baru saja menimpa keluarga kecil rekan mereka, Amri Hidayat.

Rabu sore itu (12/11/2025), suasana rumah duka tak pernah sepi. Ratusan karangan bunga memenuhi halaman, berjejer dari para kerabat, sahabat, alumni, dan para pimpinan tempat suami almarhumah bekerja.

Salah satunya datang dari Direktur Jenderal Pajak, Bimo Wijayanto, yang menuliskan ungkapan belasungkawa:

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Turut berduka cita atas meninggalnya Resti Gunar Tinarga.”

Jenazah Aresty tiba di Blitar pada Rabu sore setelah menempuh perjalanan panjang dari Manokwari.

Tanpa menunda waktu, keluarga memakamkannya di pemakaman umum Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, Blitar Jawa Timur sebelum senja benar-benar jatuh.

Karangan bunga dari  SMA Taruna Nusantara, almamater suaminya, juga menghiasi area rumah duka.

“Turut berduka cita atas meninggalnya almarhum Aresty Gunar Tinarga TN 13,” tulis salah satunya.

Aresty adalah istri dari Amri Hidayat, pegawai Bea Cukai Surabaya Jawa Timur yang sedang bertugas sebagai Kepala Seksi Penjaminan Kualitas Data (PKD) di KPP Pratama Manokwari.

Karangan bunga duka cita dari Direktur Jenderal Pajak, Bimo Wijayanto, terlihat terpasang di depan rumah duka almarhumah Aresty Gunar Tinarga di Perumahan BTN Asabri, Kelurahan Gedog, Sananwetan, Kota Blitar, Rabu (12/11/2025). Karangan bunga ini menjadi ungkapan belasungkawa mendalam atas kepergian istri dari Amri Hidayat, pegawai Bea Cukai Pusat yang bertugas di KPP Pratama Manokwari.FOTO: FOTO:ISTIMEWA

Baru tiga hingga empat bulan Amri memulai penugasan di kota Manokwari, sebelum tragedi mengenaskan merenggut perempuan yang menjadi sandaran hidupnya.

“Keranda diusung oleh pegawai Bea Cukai sebagai bentuk penghormatan terakhir, karena suami almarhumah adalah bagian dari keluarga kami sebagai pegawai Bea Cukai Surabaya,” ujar salah satu pegawai Bea Cukai melalui pesan WhatsApp kepada papuadalamberita.com.

”Suaminya merupakan lulusan D3 di Beacukai angkatan XIX tahun 2005-2006, pemindaha lintas kerja satuan itu sebagai promosi, durasinya tidak lama hanya sekitar dua tahun, setelah dua tahun ia kemabli ke satuan asal di Beacukai, tetapi akan bertugas di Beacukai lain daerah, tergantung kebutuhan,” sebutnya.

Ia menambahkan, di Kementerian Keuangan, ada aturan baru yang membolehkan pegawai dari berbagai direktorat berpindah satuan tugas, termasuk dari Direktorat Jenderal Bea Cukai ke Direktorat Jenderal Pajak.

‘’Karena itu, rekan-rekan suaminya kompak mengawal hingga pemakaman., ujarnya.

Aresty meninggal dunia di Manokwari dalam kondisi yang amat tragis.

Ia dibunuh pada Senin, 10 November 2025, di rumah kontrakannya di Reremi Puncak, kemudian dimutilasi oleh Yahya Himawan, seorang tukang yang pernah bekerja di rumah tersebut.

Kondisi jenazah yang tidak utuh membuat kepergian Aresty menyisakan luka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan rekan kerja suaminya.

Kini, Aresty telah pulang ke tanah kelahirannya. Namun jejak kesedihan itu masih gelap, menyisakan pertanyaan dan duka yang belum akan reda dalam waktu dekat.(rustam madubun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *