Papua Barat

Ensiklopedia Jurnalistikku Bagian (3). Melihat Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat

329
×

Ensiklopedia Jurnalistikku Bagian (3). Melihat Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat

Sebarkan artikel ini

Tiga Museum di Indonesia pernah ku sambangi,  Museum Tsunami Aceh, Museum Bank Indonesia Jakarta, dan Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat Papua Selatan. Tiga liputan kenagan kuringkaskan dalam tulisan ensklopedia jurnalisku secara bersambung, di bagian pertama (1) Sewaktu di Provinsi Nanggroe Aceh Darusallam, kemudian bagian kedua (2) ketika temu wartawan Bank Indonesia di Jakarta tahun 2016 dan 2017. Ringkasan ketiga (3) sewaktu berkunjung ke negeri di atas lumpur Kabupaten Asmat.

   Ketika melihat koleksi Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat, Papua Selatan Juni 2012. FOTO: ISTIMEWA/PROPERTI PRIBADI.

PAPUADALAMBERITA.COM – Direktur Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat Eric Sarkol ditemui pada Juni 2012 menjelaskan, cikal bakal Museum yang menyimpan benda-benda bersejarah budaya Asmat bernilai tinggi itu Museum terbentuk dari misionaris OSC Frank Trenkeschuh pada tahun 1969 sebagai jalan untuk mempertahankan kebudayaan-kebudayaan Asmat.

Baca juga: Ensiklopedia Jurnalistikku Bagian (1). Waktu di Museum Tsunami Aceh, Ada Nama-nama Korban

Baca Juga: Ensiklopedia Jurnalistiku Bagian (2).  Melihat Museum Bank Indonesia, Ada Koleksi Keping Emas

Saya beruntung mengunjungi Kota Asmat dua kali, ketika penugasn dari kantor redaksi saat saya masih Harian Timika Express, dan ketika saya meliput perjalanan Bupati Mimika waktu itu masih di jabat Almarhum Klemen Tinal.

Dua kali berkesempatan ke Kota Asmat saya selalu menyempatan waktu melihat di Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat terletak di kota Agast Provinsi Papua Selatan.

‘’Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat memberikan kontribusi ekonomi bagi orang-orang dan suku-suku Asmat,’’ ujar Sarkol yang menjabat direktur sejak tahun 2007.

Museum Kebudyaan dan Kemajuan Asmat dibangun oleh Keuskupan Agast – Asmat, yang juga memiliki museum tersebut didukung oleh uskup Alphonse Sowad.

Ketika mewawancarai Direktur Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat Eric Sarkol Papua Selatan Juni 2012. FOTO: ISTIMEWA/PROPERTI PRIBADI.

‘’Alphonse sendiri juga mendirikan museum Asmat di St Cloud, Minnseota di Universiti St Thomas, Minnesota dengan American Museum of Asmat Art, disingkat AMAA atau AMAA-UST’’ ujarnya.

Seniman Amerika Tobias Shneebaum dan Ursula Konrad membantu membangun museum dan secara resmi museum ini dibuka pada hari kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1973.

Museum ini memiliki koleksi sekitar 1,200 benda. Sekitar 600 benda ditampilkan, berupa 300 ukiran,tiang besi, perisaidan dan tifa.

Museum ini juga menyimpan kerangka-kerangka buaya hasil tangkapan warga yang sebelumnya sempat memangsa bsejumlah warga di perairan Asmat.

Selain Museum Kebudayaan dan Kemajuan, Asmat memiliki keunikan lain, penduduk satu kabupaten ini hidup di atas lumpur, saat meninggal dunia pun dimakamkan di lumpur.

Hidup di lingkungan yang sulit, mereka menemukan kebahagiaan, menunjukkan keuletan luar biasa.

Ketika di Kantor Bupati Asmat Papua Selatan Juni 2012. FOTO: ISTIMEWA/PROPERTI PRIBADI.

Kabupaten Asmat beribu kota Agast di Provinsi Papua Selatan, dikelilingi lumpur tebal rawa naik turun, , mengikuti pasang-surut air laut.

Penduduk Asmat berhadapan dengan tantangan, seperti air bersih terbatas, transportasi motor listrik, tidak ada mobil.

Tidak ada lahan pekaranngan tanah keras, lapangan sepak bola, lapangan upacara, jalan raya, rumah kantor, berfondasi kayu dan papan, sebagain jalan raya sudah dibeton.

Namun, warga Kabupaten Asmat mampu adaptasi yang luar biasa. Mereka membangun rumah dan infrastruktur di atas lumpur dengan kreativitas dan daya juang tinggi.

Warga tidak mengubah lumpur menjadi dasar yang kokoh, tetapi memabagun rumah, perkantoran, jalan raya dari pangung dan papan, mereka membangun lingkungan hidup yang baik.

Permenas, warga Asmat menyebutkan, hidup di atas lumpur memberikan kehidupan unik, menantang.

“Orang tua kami sejak dulu sudah menerima lumpur, hidup bersama dengan lingkungan apa adanya,” ujar Menas ketika tahun itu.

Berkesempatan melihat Masjid di Asmat Papua Selatan Juni 2012. FOTO: ISTIMEWA/PROPERTI PRIBADI.

Hidup di atas lumpur memberikan tantangan sulit, warga Asmat mampu menemukan kebahagiaan dalam kehidupan sederhana.

Mereka melawan ketidakpastian dengan semangat, membangun masa depan lebih baik untuk diri mereka dan generasi akan datang.

Kisah Kabupaten Asmat yang tinggal di atas lumpur mengajarkan saya untuk tidak menyerah dalam menghadapi segala kesulitan hidup, terus mencari cara menggapai kebahagiaan.

Penduduk Asmat adalah contoh nyata, bahwa apapun lingkungan di mana kita tinggal, semangat dan kecerdasan manusia tidak terbatas untuk mengatasi tantangan dan mencapai harapan.

Ayo ke Asmat, jangan bisacara Asmat kalau belum pernah ke Asmat. Asmat keren, unik, dan memiliki potensi wisata.(rustam madubun/selesai)

Ini Lapangan Upacara sekaligus lapangan sepakbola di Kabupaten Asmat Papua Selatan Juni 2012. FOTO: ISTIMEWA/PROPERTI PRIBADI.

KUBURAN BERLUMPUR: Ini temnpat pemakaman umum Islam dan kristen yang berdampingan di Kabupaten Asmat Papua Selatan Juni 2012. Kondisi ini ketika air pasang, jika air naik lokasi ini terendam air, bisa dibayangkan bagaimana galinya dan saat pemakaman semua liang lahat berisi air.FOTO: ISTIMEWA/PROPERTI PRIBADI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *