fbpx
PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – ‘’Ayamanya  seekor berapa pak,’’ tanya  papuadalamberita.com. ‘’Yang putih ini   Rp250.000, yang merah dalam dalam keranjang itu, Rp150.000, ada juga yang  Rp100.000,’’... Feature: Melintas Puluhan Kilometer, Rafael Jajakan Ayam Kampung Hingga ke Pasar Wosi Manokwari
PENJUAL ayam kampung asal SP 8 Manokwari, Rafael (jaket kulit hitam) menawarkan dagangannya kepada salah satu pembeli di Pasar Wosi Manokwari. (22/5/2019). FOTO: rustam madubun/papuadalamberita.com

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – ‘’Ayamanya  seekor berapa pak,’’ tanya  papuadalamberita.com.

‘’Yang putih ini   Rp250.000, yang merah dalam dalam keranjang itu, Rp150.000, ada juga yang  Rp100.000,’’ jawab Rafael Joni Jelala.

‘’Ambil yang mana pak, bayar sudah ini Rp225.000,’’ tawar Ia kepada saya sambil menyodorkan si jago berwana putih.

‘’Ayam dari mana ini pak? ‘’Dari SP 8, ‘’ jawabnya.

‘’Tiap hari jualan disini pak? ‘’Saya jual keliling, yah kalau tidak hujan saya ke sini, itupun tidak tiap hari, kalau di SP sepih pembeli saya lari ke sini,’’ ujarnya.

Itulah awal percakapan papuadalamberita.com bersama ayah lima anak ini saat di temui di Pasar Tradisional Wosi Manokwari Papua Barat, Rabu (22/5/2019).

‘Jjadi ambil yang mana pak,  putih ka merah,’’ tawar pria asal Flores NTT ini.

  Percakapan kami pun terhenti, karena Rafael harus melayani beberapa pembeli, Ia pun sibuk memasukan dan mengeluarkan ayamnya satu persatu dari  “kandangnya”   yang terbuat dari kawat yang diletakan diatas motornya.

RAFAEL jakaet hitam.FOTO: rustam madubun/papuadalamberita.com

‘’Yang putih ini berapa pak,’’ tanya salah satu pembeli. ‘’Rp250.000,’’ pak. ‘’Bisa kurang pak,’’ tawar pembeli. ‘’Ambil sudah, Rp230.000,’’ kata Rafael kepada bapak itu.

‘’Pasnya berapa,’’ tawar  pembeli lagi,’’ ‘’ 225 ribu,’’ ujarnya. ‘’Kurang lagi bisa pak, ‘’ tawar pembeli itu. ‘’Aduuh pak, saya ambil dari orang 175 ribu,’’ serganya.

Setelah saling menawarakan antara yang cukup alot. akhirnya membeli si jago putih dengan banrol Rp225.000. ‘’Makasih ya pak,’’ jawab Rafael setelah keduanya selesai transaksi.

Obrolan kami berdua pun berlanjut,. ‘’Sudah berapa ekor yang terjual hari ini,’’ tanya saya. ‘’Berapa yah, ia agak lupa dan kemudian menjawab, bahwa sekitar tujuh atau delapan ekor yang terjual dari 25 ekor yang dibawanya pada hari itu.

‘’Saya jadi transmigrasi di SP 8 Manokwari tahun 2004, tetapi sebelumnya saya trans di Merauke pada tahun 1993, karena tangung jawab untuk empat anak, saya pindah ke Manokwari beserta keluarga,’’ kenangnya.

Selama di Manokwari,  bertani adalah penyokong hidup Rafael serta tiga putrinya dan satu putranya buah dari pernikahan dengan Dolorosa Mince. ‘’Hidup itu harus kerja, dan berdoa,’’ ujarnya.

‘’Kalau tidak kerja yah mau bagaimana kasih hidup anak istri kita, kalau tidak banyak berdoa nanti hidup kita tidak berkah,’’ ujarnya sedikit berdalil.

‘’Oh bap[ak bisa khutbah juga ee,’’ ucap saya. ‘’Hahaha ia tertawa sambil tertawa,  tidak tapi itu pesan orang tua-tua kita, bahawa hidpu itu tidak hanya kerja tapi harus ingat Tuhan,’’ jelasnya.

Ia mengaku dari hasil bertani dan berjualan ayam Ia dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga berpendidikan dan tiga putrinya sudah berkeluarga. ‘’ Masih satu anak laki-laki menjadi tangung jawab saya dan ibunya, walaupun ia sudah bekerja sebagai karyawan toko di Manokwari, namun belum menikah.

Penghasilan dari penjualaan ayam kampung keliling dan hasil bertani Ia mengaku sangat bersukur. Karena sebagai kepala rumah tangga bisa menfakahi keluarga hingga putra-putrinya merasakan kebahgiaan walau pekerjaan orang tuanya hanya petani dan penjaja ayam, keliling.

‘’Yah kadang mereka dengan suami mereka dan anak-anak mereka main ke rumah di SP 8, itu kalau ada libur, karena anak-anak saya punya suami ada yang PNS ada yang kerja swasta,’’ tuturnya.

AYAM Kampung asal SP 8 Manokwari yang dijajakan Rafael hingga ke Pasar Wosi Manokwari. FOTO: rustam madubun/papuadalamberita.com

Dengan modal motor Honda bernomor polisi PB 4378 MS ia melintas puluhan kilometer untuk menjajakan dagangannya hingga ke seantero kota Manokwari. ‘’Yah kalau tidak laku di pasar, saya jual keliling kota ini masuk keluar gang-gang atau jalan-jalan lorong,’’ kata Rafeel.

Tidak tiap hari semua yang dijajakan terjual habis, kadang harus pulang dengan tangan hampa, tetapi tidak menyurutkan semangat ia untuk terus berburu rejeki dari kepan saya si ayam jago.

‘’Saya tidak  punya pelanggan tetap, saya hanya berjualan di jalan-jalan dan pasar,’’ ujarnya mengakhir perbincangannya karena Ia harus melayani beberap pembeli.(rustam madubun)  

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Tidak Bisa Dicopy !!