Papua Barat

Film Satu Tungku Tiga Batu, Samuel Rizal Berperan Sebagai Idris

902
×

Film Satu Tungku Tiga Batu, Samuel Rizal Berperan Sebagai Idris

Sebarkan artikel ini
Film Satu Tungku Tiga Batu
Samuel Rizal Arifin (Kanan) Piter Ell dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Fakfak Costantinus Nimbitkindit. Rabu (25/10/2023). FOTO : ISTIMEWA,

PAPUADALAMBERITA.COM. FAKFAK – Tak terasa sudah 22 tahun, Samuel Rizal Arifin berdarah Minang dan Minahasa menjadi aktor charming dan humble memerankan banyak peran.

Di film terbarunya berjudul “Satu Tungku Tiga Batu” arahan sineas Irham Acho Bahtiar. Sammy, begitu ia kerap di sapa berperan sebagai Idris sosok pejuang keberagaman di Kota FakFak.

“Sampai-sampai ibu saya ikut beri komentar tentang film ini yang dari plot twist menandaskan ke Indonesiaan yang sangat beragam sejak bernama Nusantara. Diversity adalah KUNCi’. Tungku adalah tempat memasak, yang ditopang tiga batu. Tungku melambangkan kehidupan sosial dan ekonomi yang bersama-sama ditopang oleh masyarakat yang menganut tiga agama, yaitu Islam, Katolik, dan Protestan,” jelas Sammy sumringah.

Film ini ia akui sebagai oase sejak berperan sebagai Anton di Sosok Ketiga yang sudah melampaui angka penonton lebih dari 1 juta penonton.

Samuel Rizal Berperan Sebagai Idris dalam film Satu Tungku Tiga Batu, pagi tadi, (Rabu, 25/10/2023) telah tiba di Bandara Torea Fakfak dan disambut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Fakfak Costantinus Nimbitkindit. Dalam penjemputan ini Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Fakfak memberikan pengalungan bunga kepada Samuel dan tim dengan anak-anak Papua berpakaian adat.

Sementara itu sang sutradara yang suka disapa Acho menggarisbawahi pesan Wapres RI H.Ma’ruf Amin berkenaan benang merah dari filmnya kali ini.

“Satu Tungku Tiga Batu adalah film yang menonjolkan corak keberagamaan yang moderat, inklusif, dan toleran. Senang sekali saat audisi pemain lokal sampai ratusan dan terpilih yang terbaik jadi hanya Samuel Rizal saja sebagai pemain nasional yang hadir pertama kali di Kota Fak Fak,” tandasnya.

Acho mengatakan,  semangat  mentuntaskan film ini agar dapat tayang di tahun 2024 mendatang.

Film ini untuk moderasi beragama agar segala perbedaan agama maupun budaya di negeri ini dan juga di kancah global, dapat dimaknai secara positif sebagai karunia Tuhan dan keniscayaan sejarah.(rls/RL 07)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Tidak Bisa Dicopy !!