PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Gubernur Papua Barat Drs. Dominggus Mandacan, M.Si membuka Simposium Internasional ke-12 Flora Malesiana dan Konferensi Internasional Solusi Iklim Berbasis Alam yang digelar di Auditorium PKK Provinsi Papua Barat, Manokwari, Senin (9/2/2026).
Dalam sambutannya, Gubernur Dominggus Mandacan menyampaikan apresiasi dan rasa bangga kepada para peserta dari dalam dan luar negeri yang hadir dan berpartisipasi dalam forum ilmiah tersebut. Ia menilai kehadiran peserta internasional menjadi sinyal positif bahwa Papua Barat, khususnya Manokwari, merupakan daerah yang aman dan kondusif untuk kegiatan akademik dan kolaborasi global.
“Terima kasih kepada seluruh peserta yang telah datang, termasuk dari luar negeri, menempuh perjalanan jauh dengan berbagai moda transportasi dan perbedaan waktu untuk hadir di Manokwari,” ujar Mandacan.
Selain menjabat sebagai Gubernur Papua Barat dan Kepala Suku Besar Arfak, Dominggus Mandacan juga dikenal sebagai penerima penghargaan Pahlawan Konservasi Global tahun 2019. Ia menegaskan pentingnya forum ini dalam memperkuat komitmen perlindungan keanekaragaman hayati dan pengembangan solusi iklim berbasis alam.
Menurutnya, berbagai bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia belakangan ini — seperti banjir dan tanah longsor — menjadi pengingat bahwa pembangunan harus dirancang secara menyeluruh, berkelanjutan, dan selaras dengan perlindungan lingkungan.
Gubernur menjelaskan, Papua Barat yang kini berstatus sebagai provinsi berkelanjutan memiliki karakter wilayah yang didominasi pegunungan dan perbukitan, dengan tutupan hutan alam masih di atas 70 persen. Namun, kondisi lapisan tanah yang relatif tipis membuat kawasan hutan sangat rentan terhadap kerusakan jika eksploitasi dilakukan tanpa perencanaan konservasi.
“Jika hutan ditebang, pemulihannya membutuhkan waktu sangat lama dan berpotensi menimbulkan longsor, pencemaran sungai, serta ancaman bagi masyarakat pesisir,” katanya.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Papua Barat menerapkan pendekatan pembangunan terintegrasi bentang darat dan laut atau ridge to reef sebagai strategi utama pembangunan berkelanjutan.
Melalui simposium dan konferensi ini, peserta diajak merayakan kekayaan flora kawasan kepulauan yang disebut sebagai salah satu yang tertinggi di dunia, sekaligus merumuskan langkah nyata pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan untuk ketahanan iklim dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat adat Orang Asli Papua.
Tema utama kegiatan ini adalah “Merayakan Pulau Terkaya Flora di Dunia: Keanekaragaman Hayati, Kesejahteraan dan Ketangguhan Iklim.”
Gubernur menegaskan, Pemerintah Provinsi Papua Barat terbuka terhadap berbagai masukan dan rekomendasi teknis yang dihasilkan dari simposium dan konferensi tersebut sebagai bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan pembangunan daerah berkelanjutan ke depan.(rustam madubun)













