Papua Barat

Ketika Senior Bicara Tentang Plagiat dan Plagiarisme

171
×

Ketika Senior Bicara Tentang Plagiat dan Plagiarisme

Sebarkan artikel ini
Ari Amstrong yang ditemui wartawan di Kantor Gubernur Papua Barat Jumat (20/10/2023). FOTO TRI ADI SATOSO.KABARNUSANTARA

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI –  Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan plagiat atau plagiarisme merupakan aktivitas pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah milik sendiri atau karangan sendiri.

Dalam pasal dua (2) kode etik jurnalis (KEJ) menegaskan wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.

Menurut wartawan senior di Papua Barat Amstrong Lucas, SH ada dua profesi yang rentan melakukan plagiat yaitu akademisi, dan profesi jurnalis.

Ia mengatakan ada sejumlah faktor membuat sesorang menjadi plagaiarisme, misalnya malas, dan penyalahgunaan teknologi digital yang mudah diakses di mana saja.

‘’Penyebab itu terjadi, seperti kemajuan teknologi digilitasi dapat dimanfaatkan orang tertentu dari berbagi profesi seperti , penulis, wartawan, mahasiswa dalam mebuat skripsi,  wartawan menulis berita supaya gampang, cepat mereka mengutip hasil karya orang, tanpa menyebut sumber atau nama media tersebut,’’  ujar Amstrong Lucas pemegang sertifikasi jenjang utama ini mencontohkan.

Starata satu (S1) hukum jebolan Universitas Ngurahrai Bali ini mengatakan, jika itu dilakukan terjadilah yang disebut plagiat, isi satu tulisan sama, tetapi plagiarisme merasa itu merupakan hasil karya sendiri, itu problem.

‘’Kalau orang yang profesional dan sesuai aturan dalam mengutip pendapat orang,  kita menyebutkan nama orangnya dan kita mengutip dari sumber mana, itu bukan plagiat,’’ jelas Ari yang pernah menjadi asisten pengacara pada Lembaga Konsultasi Hukum Trisula milik Partai Golkar ini.

Lanjut dia, jika ada yang mengutip satu tulisan orang lain, tanpa mencantumkan sumber, akan menjadi preseden buruk dan tidak baik, jika itu dilakukan seorang jurnalisme, itu tidak sehat, jika itu dari sisi intelktual pengetahuan akademisi membuat skripisi itu lebih tidak sehat.

Ari yang mengawali karir jurnalis sejak tahun 2012 di Harian Media Papua (sudah tutup, red) di Manokwari plagiat terjadi dalam artian lebih banyak kepada sistem penulisan, isi penulisan, jika dia kutip tanpa menyebutkan sumber itu tidak baik

Wakil Ketua Bidang Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Papua Barat mengatakan dalam mencegah kerawanan ini harus ada regulasi dari lembaga-lembaga tersebut.

Ia mencontohkan dalam penulisan skripsi perguruan tinggi lebih memperketat saat pengajuan judul skiripsi misalnya.

Menurut Ari dari sisi jurnalisme, media, pemimpin redaksi atau pengelola media harus ada ketegasan kepada wartawannya untuk tidak mengutip-ngutip berita media lain tanpa menyebutkan sumber media dan penulisnya, jika itu terjadi,karena  itu termasuk plagiat.

Ari Amstrong di Kantor Gubernur Papua Barat, Jumat (20/10/2023). FOTO: TRI ADI SANTOSO.KABARNUSANTARA.COM.

‘’Misalnya penangungjawab media atau pemimpin redaksi harus memiliki banyak referensi, sehingga dapat mengetahui setiap tulisan asli wartawannya , atau jika ada kejadian plagiat pemred dapat memanggil secara pribadi dan membina wartawan untuk tidak melakukan plagiat.

‘’Lebih baik lebih awal ditegur pemrednya sendiri, sebelum ditegur orang atau diomongin orang,  kita duluan yang tegur, jangan kita biarkan,  jangan hanya mau mengejar kecepatan berita,  atau media terisi,’’ imbau Ari.

‘’Jjangan mengabaikan hal-hal yang sepele ,’’ sambung dia.

Ari mengajak jurnalis untuk jangan terus meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri, pertama harus banyak belajar,  jangan malas, jangan mau enak-enak, rajin mencari narasumber secara sendiri.

‘’Angkat isu sendiri sehingga berbeda beda dengan yang lain, supaya kita cepat dikenal orang, supaya orang melihat kemapuan dan kualitas tulisan,’’ tambah Amstrong anak ,mantan Kepala Kejaskaan Dili Dili Timor-Timor.(sewaktwaktu Dili masih bergabung dengan Indonesia, red).

Dari pantaun papuadalamberita.com untuk mencegah plagiarisme memang ada sjeumlah media online yang memproteksi tulisan dan fotonya, tetapi juga banyak yang membuka sistemnya, sehingga siapa saja dengan leluasa dapat mengkopy pas narasi berita dan, bahkan fotonya.

Tetapi jangan salah, sejumlah media online di Manokwari sudah cukup lama memasang kalimat dan kata- kata kunci dalam pemberitaannya di setiap alinea berita, sehingga media tersebut dapat mengetahui, bahwa itu hasil karya jurnalistiknya jika diambil orang.(rustam madubun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *