Papua Barat

Mahasiswa yang Dituduh Makar Bebas, Warinusi Apresiasi Kejakasaan Negeri

74
×

Mahasiswa yang Dituduh Makar Bebas, Warinusi Apresiasi Kejakasaan Negeri

Sebarkan artikel ini

Warinusi bersama klinennya, dan petugas Lapas Manokwari. PAPUADALAMBERITA.COM. FOTO: dokumentasi warinusi.

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI- Koordinator Tim Penasihat Hukum 3 (tiga) mahasiswa atas nama Erik Aliknoe, Pende Mirin dan Yunus Aliknoe, memberi apresiasi kepada Kepala Kejaksaan Negeri Manokwari selaku pelaksana putusan Pengadilan Negeri (PN) Manokwari nomor : 5/Pid.B/2020/PN.Mnk.

Karena melalui Jaksa Penuntut Umum (JPU) Benoni Kombado telah mengeluarkan ketiga kliennya dari tahanan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Polda Papua Barat melalui Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 2B Manokwari.

‘’Sejak diadili pertama pada 13 Februari 2020 hingga divonis pada Kamis, 4 Juni 2020 ketiga klien kami ini telah menjalani tahanan kurang lebih 8 (delapan) bulan 2 (minggu),’’ ujar Koordinator Tim Penasihat Hukum tiga mahasiswa, Christiyan Warinusi SH kepada papuadalamberita.com. KAmis (18/6/2020).

Menurut Warinusi, Erik Aliknoe tercatat sebagai mahasiswa Teknik Informatika di Universitas Papua. Pende Mirin selaku mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Papua. Dan Yunus Aliknoe sebagai mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Papua.

‘’Delapan bulan lebih mereka “terpaksa” harus meninggalkan aktivitas perkuliahannya dan berusan dengan hukum akibat dituduh melakukan tindak pidana makar dan atau penghasutan untuk berbuat makar sebagai dimaksud dalam rumusan pasal 106 dan 110 KUH Pidana,’’ jelas Warinusi.

Ancaman hukuman pasal-pasal makar tersebut adalah 20 tahun penjara, lanjut Warinusi tetapi ternyata semua tuduhan yang telah diberkaskan sejak di tingkat penyidikan di Polres Manokwari dan Polda Papua Barat di persidangan PN Manokwari tidak ada bukti yang bisa menunjuk secara jelas keterlibatan ketiga klien kami ini melakukan dan atau turut serta melakukan tindak pidana makar sebagai didakwakan  dalam dakwaan pertama dan dakwaan kedua dari JPU Robertho Sohilait dan  Benoni Kombado dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Manokwari.

Justru ketiga mantan terpidana ini dituntut JPU sebagai bersalah melakukan tindak pidana sebagai didakwakan dalam dakwaan ketiga yaitu melanggar pasal 160 KUH Pidana juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana. Pasal 160 berbunyi :

“Barangsiapa di muka umum dengan lisan atau tulisan menghasut supaya melakukan perbuatan pidana, melakukan kekerasan terhadap penguasa umum atau tidak menuruti baik ketentuan undang undang maupun perintah jabatan yang diberikan berdasarkan ketentuan undang-undang, diancam  dengan pidana penjara paling lama enam tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah,’’ tambah Warinusi.

“Disinilah letak pijakan formal dan materil yang digunakan JPU dalam mengajukan rencana tuntutan terhadap ketiga klien kami tersebut. Hingga keluarlah tuntutan pidana masing-masing selama 10 (sepuluh) bulan penjara yamg membuat “pihak lain” mungkin tidak menerima baik,’’ tutur Warinusi.

Tapi intinya tuntutan pidana (Requisitoir) JPU maupun Nota Pembelaan (Pleidoi) dan putusan majelis hakim pengadilan mesti didasari utamanya pada fakta-fakta persidangan perkara Erik Aliknoe, Pende Mirin dan Yunus Aliknoe.

Sehingga akhirnya majelis hakim yang dipimpin Ketua PN Manokwari Sonny Alfian Blegoer Laoemoery sependapat dengan tuntutan JPU dan memberi vonis pidana 9 (sembilan) bulan potong seluruh masa tahanan dari ketiga mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo-Provinsi Papua tersebut.

‘’Akhirnya Selasa, (16/6) dan hari (Rabu, 17/6) mereka bertiga dapat lepas dan bebas setelah menjalani tahanan dan pidana penjara sesuai putusan PNManokwari,’’ ujar Yan Warinusi.(tam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Tidak Bisa Dicopy !!