fbpx
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menerima cinderamata dari Bupati Pekalongan Asip Kholbihi usai acara Silaturahim Ulama, Umaro, TNI, dan Polri... Mahfud: Jangan Melawan Kekuasaan dengan Mengatasnamakan Islam

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menerima cinderamata dari Bupati Pekalongan Asip Kholbihi usai acara Silaturahim Ulama, Umaro, TNI, dan Polri di Pekalongan. (Foto: Kutnadi)

PAPUADALAMBERITA.COM. PEKALONGAN – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menyatakan bahwa agama Islam tidak mengajarkan umat manusia melawan kekuasaan dengan mengatasnamakan Islam dengan cara kekerasan.

“Islam adalah Rahmatan Lil-alamin (Rahmat bagi semesta) sehingga kita jangan merasa mau melawan kekuasaan mengatasnamakan Islam dengan kekerasan. Ndak ada ceritanya melawan pemerintah atau mengajak orang lain masuk Islam dengan kekerasan,” katanya pada acara Silaturahim Ulama, Umaro, TNI, dan Polri di Pekalongan, Sabtu.

Menkopolhukam juga menceritakan perjuangan Nabi Muhammad SAW saat masih hidup hingga wafat tidak pernah sekali pun memaksa manusia masuk (agama) Islam dengan cara memaksa maupun kekerasan karena Allah menciptakan (sesuatunya) dengan perbedaan.

Demikian pula, dengan kondisi negara Indonesia yang diragami dengan banyak perbedaan namun dapat bersatu karena berdasar Pancasila.

“Negara Pancasila, Islam sekarang ini sudah bagus sehingga mari kita kembangkan Islam yang ramah bukan Islam yang marah,” katanya.

Ia mengatakan perkembangan Islam yang ramah ini sudah ditunjukan oleh para ulama terdahulu dan kini diwarisi oleh para ulama-ulama yang hadir pada acara di sini (Acara Silaturahim Ulama, Umaro, TNI, dan Polri).

Saat ini, kata dia, (ajaran Islam Rahmatan Lil-alamin) terus dikembangkan ke seluruh Indonesia demi untuk eksistensi negara menjadi “baldatun thoyyibatun wa robbun Ghofur”.

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi mengatakan acara pertemuan antara ulama, umaro, TNI, dan Polri adalah untuk menanggulangi gejala radikalisme dan ekstrem yang tidak sesuai dengan prinsip berbangsa dan bernegara.

“Pada acara yang dihadiri sekitar 2.500 peserta terdiri atas ulama, umaro, TNI, dan Polri ini sepakat bahwa apapun kondisinya, negara Indonesia harus dipertahankan,” katanya.(ant)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Tidak Bisa Dicopy !!