PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Bidang Pendidikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua (Fasasbud UNIPA) menyelenggarakan kegiatan Nobar dan Diskusi Film ‘Hotline 1998’ karya Andrea Suwito.
Kegiatan tersebut telah dilaksanakan pada Selasa, 17 Juni 2025 pukul 15.30-17.30 WIT di Perpustakaan Fasasbud UNIPA.
Nobar dan diskusi film tersebut menjadi pengingat peristiwa kelam yang pernah menimpa bangsa Indonesia pada Mei 1998.
“Film merupakan media propaganda paling efektif. Mahasiswa/i perlu mengetahui bahwa 27 tahun silam pernah terjadi tragedi mengerikan.” ujar Ibrena Br Bangun- Ketua BEM Fasasbud UNIPA.
Kegiatan ini dibuka oleh moderator Putri Z. Sitompul, mahasiswi Program Studi S1 Sastra Indonesia Fasasbud UNIPA. Acara dilanjutkan dengan pemaparan konteks kepada peserta kegiatan oleh pemantik diskusi, Muhammad Hussen sekaligus Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama Fasasbud UNIPA. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran film berdurasi sekitar dua puluh menit dan dilanjutkan dengan sesi diskusi.
Nobar dan diskusi ini merupakan respon atas wacana penulisan ulang sejarah bangsa Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
“Kegiatan ini adalah bentuk reaksi kami terhadap wacana penghapusan peristiwa pemerkosaan massal Mei 1998 dari sejarah Indonesia.” jelas Muhammad Hussen.
Nobar dan diskusi ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, dosen, aktivis, hingga organisasi perempuan seperti Kohati Manokwari dan Perempuan Mahardika Manokwari.
“Kegiatan nobar dan diskusi semacam ini perlu lebih sering dilakukan di banyak tempat di Manokwari.” sebut Risna dari Perempuan Mahardika Manokwari.
Film pendek Hotline 1998, produksi program Buried Chapters, mengangkat sebuah babak kelam dalam sejarah Indonesia, kerusuhan Mei 1998, dengan cara yang intim dan reflektif. Lewat medium animasi dokumenter, karya ini merekonstruksi pengalaman para saksi dan relawan call‑center yang menerima laporan langsung dari korban kekerasan seksual dan kerusuhan.
“Film ini menunjukkan bahwa peristiwa kekerasan seksual yang terjadi pada kerusuhan Mei 1998 itu benar terjadi.” ujar Silfiani dari Kohati Manokwari.
Melalui kegiatan ini diharapkan agar tercipta keadilan bagi korban serta menjadi pengingat bagi bangsa agar tidak terulang peristiwa serupa pada masa yang akan datang.
Kegiatan ini ditutup dengan foto bersama dan penyerahan dua buku antologi cerita pendek dari Muhammad Hussen sebagai apresiasi kepada peserta yang aktif berdiskusi.(rls)













