Post Views: 38 Kepala BNN Papua Barat Brigjen Pol Heri Istu Hariono pada Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Polda Papua Barat, di Swiss-Belhotel... Paparan Kepala BNN, Ada Siswa SMP Jual Ganja, Ingat Satu Linting Endingnya Penjara

Kepala BNN Papua Barat Brigjen Pol Heri Istu Hariono pada Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Polda Papua Barat, di Swiss-Belhotel Manokwari, Selasa (27/9/2022). PAPUADALAMBERITA. FOTO: RUSTAM MADUBUN.

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Brigjen Pol Heri Istu Hariono, SSI adalah Kepala BNN Provinsi Papua Barat, Ia pernah menjabat Direktur Reserse Narkoba Polda Sumatera Selatan.

Jenderal bintang satu dari kepolisian ini punya banyak pengalaman menagani perkara narkotika, psikotropika, dan obat terlarang atau narkoba dan ganja.

Ia pemateri keempat pada Focus Group Discussion (FGD) dengan judul Pembinaan Anak Putus Sekolah Dan Perlu Perhatian Lainnya Untuk Menjadi Generasi Muda Yang Sehat Dan Cerdas di Provinsi Papua Barat, yang digelar Polda Papua Barat, di SwissBelhotel Manokwari, Selasa (27/9/2022).

Pemaparannya mengejutkan, miris (kasihan, red) dan mempirhatinkan dunia pendidikan di Manokwari Papua Barat.

Yaitu ada siswa salah satu SMP di Manokwari menjual ganja, kemudian diketahui pihak sekolah dan melaporkan ke BNN Papua Barat.

Menurut Kepala BNN Papua Barat, kejadian yang menimpa siswa SMP ini adalah fakta bahwa peredaran narkoba telah menyentuh anak-anak.

‘’Peredaran narkoba bukan hanya menyasar orang dewasa tetapi juga anak-anak, beberapa waktu lalu saya kaget salah satu kepala sekolah mengundang kami (BNN, red) datang razia, di temukan ganja di SMP tersebut,’’ ujar Brigjen Heru miris.

‘’Ganja itu di plastik kecil, untuk sekali pakai, satu gram lebih, ternyata anak SMP ini begitu dibuka handphonenya (ganja, red) dijual ke lingkungan sekolah,’’ jelas Heru.

Kepala BNN merincikan, bahwa karena oknum ini pelajar SMP mengedarkan tidak mungkin ke anak SMA karena Ia tidak berani.

‘’Tetapi diedarkan pada teman sebayanya, karena sekolahnya dipindahkan, kita pantau anak itu jarang sekolah dan ini mungkin potensi jadi putus sekolah,’’ kata Kepala BNN.

‘’Dan dalam handphonenya dia ditawari salah satu bandar untuk mengedarkan, miris, ini kita harus sikap bersama,’’ ajaknya kepada peserta FGD.

Menurut Dia, wilayah Papua Barat memang rawan pengedaran narkob dan ganja, terakhir BNN Papua Barat menangkap empat setengah kilo gram ganja dari Jayapura yang dibawa ke Sorong.

‘’Memang secara geografis lingkungan kita (Papua Barat, red) terbuka, banyak masuk melalui perairan kasus ganja empat setengah kilo gram itu masuk dengan kapal perintis,’’ kata dia.

Dia menambahkan jumlah penduduk yang luas juga memeliki andil menjadi pasar potensi untuk narkoba karena dianggap aset.

Ia melanjutkan, fasilitas rehabilitasi bagi pecandu belum ada di Papua Barat, BNN memiliki program Asistensi Terpadu (TAT) yaitu menilai para pengguna layak direhabilitasi atau masuk penjara.

‘’Begitu kita asesmen kita mau menempatkan yang bersangkutan rehabilitasi ke mana? Itu menjadi persoalan di Papua Barat. Kita sering kirim ke kota yang jauh,  bagaimana kalau anak-anak itu dari Raja Ampat harus assisment ke Manokwari itu biaya besar tentunya ini persoalan yang harus disikapi bersama,’’ harap Kepala BNN.

Ia mengungkapkan, sesuai data BNN Papua Barat tahun 2021 narapidana yang menjalani hukuman di Lapas-lapas Papua Barat terbanyak di Lapas Sorong,  yang kedua di Manokwari, selain itu ada di Kaimana, Fakfak dan lain-lain.

Kata Dia, dari orang – orang (tahana narkoba, red) itu akan narkoba dan ganja menyebar ke sekitarnya, karena dua ciri penjualan narkoba tertutup dan beredar di orang terdekat.

Heru menconthkan, seperti anak SMP yang diceritakan tadi, mislakan begitu pengajaran ia tertangkap atau organg tuanya  yang tertangkap dengan kasus narkoba akan menjadi persoalan ekonomi dalam lingkungan keluarga.

Setelah kesulitan ekonomi, dia ketemu orang-orang di penjara. Dalam penjara pasti ada penjahat, pasti ada bandar, pasti ada kurir, dia perlu uang.

‘’Oke kamu saya kasih modal, kamu jual ini, sabu dan ganja keluar,  kasih modal karena dia orang baru orang awam dia bingung menjualnya, dia cari orang yang terdekat, yang pertama keluarganya, teman-teman dekatnya itu jadi persoalan,’’ jelas Kepala BNN menceritakan siklus kemungkinan sesorang akan terpapar peredaran narkoba akan terjadi.

Menurutnya, modus operandi peredaran barang terlarang itu di Papua Barat  yang terbanyak adalah sabu dan ganja. Penyebab sesorang memakai narkoba biasanya dari coba-coba dia coba-coba dan terjebak.

Ia mengilustrasikan cerita jika seseorang mulai mencoba narkoba hingga menjadi pencadu, misalkan ada seorang anak yang pulang dari kumpul-kumpul bersama teman setelah minum minuman keras (Miras).

Anak itu melewati kawasannya ada pesta, di situ dia pergi dia minum lagi setelah berapa kali minum ada yang mengeluarkan ganja,  nah ini kalau pribadi dia tidak ada ketahanan tubuh untuk menolak dia akhirnya terkena, dia ikut coba memakai jadilah dia positif di urine.

Jika positif, kemudian tertangkap BNN, polisi atau ia ketahuan seperti oknum siswa SMP dia pasti putus sekolah karena terjerat masalah hukum.

‘’Anak SMP kita pantau sekarang sudah jarang sekolah, orang tuanya ternyata ada di Bintuni jauh dia sekolah di Manokwari seperti itu itu persoalan,’’ tuturnya.

Faktor keluarga itu penting, kalau keluarganya tidak perduli, contohnya anaknya tidak pulang sampai 12.00 malam, kemudian tidak dicari, jam  12 malam keatas itu potensi persoalan.

‘’Kalau keluarganya tidak perduli, tidak mencari anak ini, tidak disuruh pulang kemungkinan besar dia terpapar dan rentan sekali untuk hal-hal negatif termasuk narkoba,’’ ungkapnya.

Menurutnya, untuk mengatasi sindikat dan pengedarannya harus ada pelatihan life skill adalah menolak narkoba dan ganja.

‘’Ingat, narkoba itu bukan mainan, narkoba itu melanggar hukum, sedikit narkoba, walaupun hanya satu (1 )linting ganja masuk penjara endingnya,’’ sebutnya mengingatkan.

Kata Kepala BNN untuk menangkal narkoba, hal penting lainnya adalah lingkungan, ini penting, lingkungan harus peduli terhadap pemerantasan narkoba.

‘’Ibaratnya, jika berada di dalam bis, semua orang peduli menolak narkoba terusir lah bandar. Tetapi kalau mereka resistensi, kalau tidak dilawan, dilindungi, akan menjadi pasar besar seperti di Jakarta ada yang menjadi kampung narkoba.

Ia menambahkan, itu terjadi karena orangnya tidak melawan, lingkungan harus diajak peduli terhadap pemberantasan narkoba.(rustam madubun)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Tidak Bisa Dicopy !!