Papua Barat

Pemuda Perantau Asal Musi Banyuasin Ditemukan Meninggal di Kamar Kos Teman di Amban

529
×

Pemuda Perantau Asal Musi Banyuasin Ditemukan Meninggal di Kamar Kos Teman di Amban

Sebarkan artikel ini
Suasana pemakaman almarhum Candra di TPU Muslim Anday, Manokwari, Ahad (28/12/2025) sekitar pukul 11.00 WIT, yang dihadiri pengurus Paguyuban Kerukunan Sriwijaya, jamaah Masjid Darul Ulum Amban, dan warga setempat.FOTO: ISTIMEWA.

PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI –  Candra (26), pemuda perantau asal Dusun Musi Banyuasin, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, ditemukan meninggal dunia di dalam kamar kos temannya di Jalan KRI Martadinata, Amban Permai (Amper), Manokwari, Sabtu malam (27/12/2025) sekitar pukul 18.00 WIT.

Ketua Paguyuban Kerukunan Sriwijaya Manokwari, Papua Barat, Toto Iswanto, membenarkan peristiwa tersebut.

Ia mengatakan korban merupakan warga asal Musi Banyuasin yang sedang berada di kamar kos temannya di Amban.

“Benar, ada warga asal Musi Banyuasin yang ditemukan meninggal dunia di kamar kos temannya di Amban, Manokwari,” kata Toto Iswanto saat dihubungi papuadalamberita.com.

Jenazah almarhum telah dimakamkan di Pemakaman Umum Muslim Anday, Distrik Manokwari Barat, Ahad (28/12/2025) sekitar pukul 11.00 WIT.

Toto menjelaskan, dirinya tidak mengenal dekat almarhum.

Informasi awal ia peroleh dari seorang teman di kawasan Amban Permai yang mengetahui dirinya berasal dari Palembang.

Jenazah almarhum Candra saat disemayamkan di  Masjid Darul Ulum, Amban, sebelum dimakamkan, Ahad (28/12/2025).FOTO: ISTIMEWA.PAPUADALAMBERITA.

“Saya tidak kenal dekat dengan almarhum. Kebetulan ada teman di Amban yang menghubungi saya karena tahu saya orang Palembang, sehingga kami berkoordinasi,” ujarnya.

Sebagai sesama perantau, Paguyuban Kerukunan Sriwijaya bersama jamaah Masjid Darul Ulum Amban dan aparat kepolisian mengurus seluruh proses administrasi, mulai dari penanganan jenazah hingga pemakaman.

“Sebagai sesama perantau, kami mengurus administrasi sampai jenazah dimandikan, disalatkan, dan dimakamkan,” katanya.

Menurut Toto, almarhum dimakamkan secara Muslim setelah identitas korban diketahui melalui pemeriksaan sidik jari.

“Dari identifikasi sidik jari diketahui bahwa almarhum beragama Islam dan berasal dari Banyuasin,” jelasnya.

Setelah dilakukan visum di RSUD Manokwari, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

“Secara fisik tidak ada tanda-tanda kekerasan. Pihak kepolisian sempat berkoordinasi terkait otopsi, namun karena tidak ada indikasi mencurigakan, otopsi tidak dilakukan. Kita hanya lakukan visum,” ujarnya.

Toto menambahkan, proses pengurusan jenazah sempat mengalami keterlambatan karena terkendala data identitas almarhum.

“Almarhum memiliki telepon genggam, tetapi terkunci, sehingga aparat kepolisian juga kesulitan mengungkap identitasnya. Setelah dilakukan pemeriksaan sidik jari, barulah diketahui data almarhum,” katanya.

Dari informasi keluarga di Musi Banyuasin, diketahui bahwa almarhum merupakan anak yatim piatu dan hanya memiliki dua orang saudara. Almarhum diketahui telah lama tinggal di Amban, Manokwari.

“Informasi dari keluarga, almarhum sudah tidak memiliki orang tua. Dia hanya dua bersaudara dan sudah lama tinggal di Amban,” ungkap Toto.

Sebelumnya, almarhum datang ke Manokwari bersama rombongan untuk berjualan jambu kristal menggunakan gerobak. Namun karena keterbatasan bahan baku dan biaya pengiriman, sebagian rekannya kembali ke daerah asal.

“Almarhum datang ke Manokwari ramai-ramai untuk jualan jambu kristal. Teman-temannya pulang karena kendala bahan baku, tapi almarhum memilih tetap tinggal di Manokwari sampai akhirnya meninggal dunia,” jelasnya.

Jenazah almarhum Candra dievakuasi menggunakan mobil ambulans menuju RSUD Manokwari untuk keperluan visum, Sabtu malam (27/12/2025).FOTO: ISTIMEWA.PAPUADLAMBERITA.

Toto juga menyebutkan, sebelum meninggal dunia, almarhum sempat berusaha mencari pekerjaan.

“Beberapa hari sebelum meninggal, almarhum sempat berbicara dengan pengurus Masjid Darul Ulum Amban untuk mencari kerja. Ia juga sempat bekerja di salah satu tempat di depan Universitas Papua (Unipa),” katanya.

Pada Sabtu (27/12/2025) sekitar pukul 12.00 WIT, almarhum diketahui baru pulang dari kawasan Arfay dan berada di kamar kos temannya yang merupakan mahasiswa Unipa.

Temannya tersebut sedang libur kuliah dan pulang ke Serui, Papua.

“Almarhum ini tidak tinggal di kamar kos itu. Ia hanya numpang di kamar temannya yang mahasiswa Unipa dan sedang pulang ke Serui,” ujar Toto.

Menurut keterangan penghuni kos, sekitar pukul 12.00 WIT almarhum sempat diajak makan siang namun menolak dan memilih tetap berada di dalam kamar.

“Dari siang sampai sore, teman-teman kos curiga karena almarhum tidak terlihat keluar masuk kamar seperti biasanya,” katanya.

Sekitar pukul 18.00 WIT, menjelang waktu Magrib, penghuni kos membuka kamar tersebut dan menemukan almarhum dalam kondisi telungkup tanpa tanda-tanda kehidupan. Kejadian itu kemudian dilaporkan ke Polsek Amban.

Jenazah korban selanjutnya dievakuasi ke RSUD Manokwari dan proses pengurusan dilakukan oleh Paguyuban Kerukunan Sriwijaya, dibantu jamaah Masjid Darul Ulum Amban, Polsek Amban, dan Polresta Manokwari hingga pemakaman.

“Semua proses sudah kami urus bersama pihak masjid dan kepolisian. Soal hasil visum, itu menjadi kewenangan aparat kepolisian,” ujar Toto.

Ia menambahkan, jamaah Masjid Darul Ulum Amban juga akan menggelar doa bersama untuk almarhum.

“Malam ini, selepas Isya, akan dilakukan doa bersama oleh jamaah Masjid Darul Ulum Amban,” pungkasnya.(rusatam madubun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *