NasionalOlahragaPapuaPapua BaratPapua Barat Daya

“Pita Hitam di Tanah Papua: Kemenangan Persipura dan Doa Sunyi untuk Sang Legenda”

464
×

“Pita Hitam di Tanah Papua: Kemenangan Persipura dan Doa Sunyi untuk Sang Legenda”

Sebarkan artikel ini
Saya bersama legenda Persipura Jayapura, Mettu Duaramuri, di Stadion Sanggeng, Manokwari, Maret 2025. Senyum sederhana dan cerita sepak bola yang mengalir menjadi kenangan terakhir, sebelum sang “Jean Tigana dari Papua” berpamitan untuk selamanya. FOTO DOK. PRIBADI

Dari Kota Injil Manokwari, Papua Barat,

kutitipkan tulisan ini untuk Persipura Jayapura di Stadion Lukas Enembe, Sentani pada 15 Februari 2026

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Langit Papua selalu punya cara sendiri untuk bercerita.

Pagi turun perlahan di lembah Sentani, kabut tipis menyapu punggung Cycloop, dan rumput di pelataran Stadion Lukas Enembe memantulkan cahaya seperti permadani hijau yang baru disisir embun.

Di tempat semegah itu, sepak bola bukan sekadar pertandingan, ia adalah doa, ingatan, dan air mata yang disimpan lama.

Di tengah keindahan itu, Persipura Jayapura kembali menyala.
Di putaran kedua Pegadaian Liga 2 Indonesia, kompetisi resmi strata kedua PSSI, Mutiara Hitam berdiri tegak di puncak klasemen sementara dengan nilai 37.

Angka yang sama dengan PS Barito Putera, namun Persipura unggul selisih gol lewat ketajaman Boaz Solossa dan rekan-rekannya.

Putaran kedua ditutup manis dengan kemenangan 2–1 di kandang Persiku Kudus, kemenangan yang terasa lebih dari sekadar tiga angka.

Namun kisah kali ini bukan hanya tentang poin, taktik, dan klasemen.
Ada duka yang masih basah.
Ada kehilangan yang belum genap kering dari ingatan Papua.

Sepak bola Papua baru saja berduka. Seorang legenda, inspirator, dan anak tanah ini telah pergi untuk selamanya: Mettusalach Marthen Dwaramuri, nama yang melekat dalam perjalanan Persipura dan denyut sepak bola Indonesia dari timur.

Kepergiannya pada 27 Januari 2026 meninggalkan ruang sunyi yang tak mudah diisi.

Ia dimakamkan pada Minggu, 1 Februari 2026, dalam suasana haru dan penghormatan dari keluarga, sahabat, serta insan sepak bola Papua.

Hari itu menjadi Minggu duka ,  dan kini, dua pekan kemudian, Minggu 15 Februari 2026 menjadi Minggu pertandingan perdana putaran ketiga,  seakan membentangkan garis kenangan antara perpisahan dan perjuangan.

Jasa-jasanya seperti rumput setelah hujan, masih basah, masih terasa.

Ia dilepas dalam peti putih dengan nuansa merah hitam, warna kostum kebanggaan Mutiara Hitam, warna yang hidup di dada orang Papua, di gang-gang kampung, di tribun, di jersey anak-anak kecil yang bermimpi menjadi pemain besar.

Papua belum lupa.

Keberhasilan Persipura memuncaki klasemen putaran kedua bukan semata karena kuatnya kaki pemain, bukan hanya cerdiknya pelatih, bukan pula kokohnya manajemen atau kerasnya teriakan suporter.

Setiap insan beriman meyakini: ini adalah kemurahan Tuhan, campur tangan yang menguatkan, memudahkan, dan meniupkan semangat saat tenaga hampir habis.

Bulan Februari membuka pintu harapan baru. Pada Minggu 15 Februari, Persipura menjalani laga perdana putaran ketiga dengan menjamu PS Barito Putera, disusul laga berikutnya pada 21 Februari melawan PSS Sleman di Stadion Lukas Enembe, Sentani, stadion megah yang berdiri di antara danau dan gunung, seperti altar besar tempat harapan dipanjatkan.

Tetapi sebelum peluit pertama ditiup, sebelum bola pertama bergulir, mungkin ada suara yang hanya terdengar oleh hati.

Seandainya Mettusalach Marthen Dwaramuri bisa menyapa dari peristirahatan terakhirnya di Pemakaman Umum Kayu Batu Base G Jayapura Utara, mungkin pesannya sederhana:

“Adik-adik, tundukkan kepala sejenak. Jangan lupa berdoa. Bermainlah dengan hati. Papua melihat kalian.”

Mungkin ia ingin melihat lengan para pemain dibalut pita hitam, tanda hormat, tanda cinta, tanda bahwa sejarah tidak dilupakan.

Mengheningkan cipta beberapa detik, bukan untuk memperlambat pertandingan, tetapi untuk meninggikan makna.

Bayangkan satu stadion berdiri senyap.
Gemuruh berhenti.
Ribuan kepala tertunduk.
Doa naik pelan dari timur Indonesia , lebih dahulu mengetuk langit.

Sepak bola kadang lebih jujur dari pidato. Ia menyimpan terima kasih lewat simbol kecil: pita hitam, doa bersama, dan permainan terbaik sebagai persembahan.

Mari mengenangnya dengan hormat.
Mari mendoakannya dengan tulus.
Mari bertanding dengan iman.

Karena mungkin mustahil bagi manusia memenangkan semua laga putaran ketiga. Tetapi tidak ada yang mustahil bagi Tuhan ketika doa diangkat bersama, oleh pemain, pelatih, ofisial, manajemen, suporter, dan seluruh warga Papua.

Selamat jalan, Kaka Mettu.
Lapangan masih hijau.
Mutiara Hitam masih bertarung.
Namamu tetap hidup di setiap tendangan pertama.

Tulisan ini kutitipkan kepada manajemen, pelatih, PSSI, dan panitia di Stadion Lukas Enembe, agar sebelum peluit awal berbunyi, ada hening, ada doa, ada pita hitam, ada penghormatan. Karena legenda tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya berpindah tempa, dari lapangan rumput ke dalam hati para penerusnya.(rustam madubun)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *