PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Gema takbir, tasbih, tahlil dan tahmid berkumandang mengagungkan asma Allah dilangit bumi Kasuari, Manokwari Papua Barat, Senin (17/6/20224).
Di Senin pagi tepat dengan tanggal 10 Dzulhijjah 1445 hijriyah, umat muslim menunaikan ibadah shalat Idul Adha bersama Penjabat Gubernur Papua Barat Drs H Ali Baham Temongmere MTP yang dipusatkan di Lapangan Kodim 1801 Manokwari.
Penjabat Gubernur Papua Barat hadir bersama keluarga, Ketua TP PKK Provinsi Papua Barat Hajah Sitti Mardiana Temongmere.

Shalat idul adha dipimpin Imam Ustadz Firdaus SP.dI dilanjutkan dengan khotbah Idul Adaha oleh Penjabat Gubernur Ali Baham Temongmere.
‘’Kita bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala hari ini kita mendapat kesempatan sekali lagi untuk menunaikan salat Idul Adha kita lanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban,’’ ujar PJ Gubernur Ali Baham saat membuka khotbahnya.
Haji Ali Baham dalam khotbah menjelaskan, ibadah salat idul adha yang dilakukan merupakan upaya menguatkan rasa dekat umat muslim kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, rasa dekat untuk tidak menyimpang dari segala ketentuannya.
‘’Momentum ibadah hal ini tidak bisa lepas dari Nabi Ibrahim Alaihissalam, dalam konteks inilah ada banyak keteladanan Nabi Ibrahim Alaihissalam dan keluarganya yang harus kita ambil, untuk kita pakai dalam kehidupan kita hari-hari,’’ pesan Ali Baham.
‘’Sifat nabi alaihissalam yang merupakan sosok keteladanan pribad memiliki idealisme berkelanjutan sejak muda beliau sudah mempertahankan nilai-nilai kebenaran terus dilakukan, idealisme yang ditunjukkan Nabi Ibrahim Alaihissalam tidak hamya saat masih muda,’’ sebut Ali Baham Temongmere.
‘’Tapi dibandingkan dengan satu peristiwa yang sangat menakjubkan saat Ibrahim diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala untuk menyembelih anaknya, Ismail maka Ibrahim pun menjalankan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ini menunjukkan kepada kita bahwa Ibrahim memiliki idealisme dari muda hingga tua inilah yang dibutuhkan di dalam kehidupan kita,’’ sambung gubernur.
Menurut Ali Baham, makna yang dapat dipetik dari nabi Ibrhami adalah, jangan sampai generasi yang pada masa mudanya menentang kezaliman, tetapi pada saat berkuasa ia sendiri yang melakukan kezoliman yang dahulu ditentangnya.
‘’Jangan hanya di masa muda menentang korupsi, tetapi pada saat ia berkuasa di usia yang semakin tua dia sendiri yang melakukan korupsi,’’ jelas Ali Baham mencontohkan.
Kata Ali Baham, pelajaran lain yang dapat dipetik dari keteladan Nabi Ibrahim Alaihissalam dengan keluarganya, adalah berbaik sangka, baik sanhka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau baik sangka kepada orang lain.
‘’Nabi Ibrahim telah menunjukkan kepada kita berbaik sangka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga apa yang diperintahkan yang siap dilaksanakan, cara menempatkan istri dan anaknya ke Mekah, walaupun pada saat itu belum ada kehidupan, merupakan sesuatu yang berat dan tidak mengenangkan,’’ sebutnya.
‘’Tetapi Ibrahim berbaik sangka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Ia yakin, bahwa dibalik perintah pasti ada kebaikan yang ingin diwujudkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,’’ sebut Ali Baham.
Pesan Ali Baham, Oleh karena itu harus berbaik sangka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, keadaan yang tidak menyenangkan merupakan ujian buat kepada umat.

‘’Juga berbaik sangka kepada pemerintah, jangan berburuk sangka terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah, Insya Allah kita taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan juga kita taat kepada pemerintah sepanjang apa yang diputuskan adalah untuk kebaikan umat bangsa dan Negara,’’ jelas Ali Baham.
Menurutnya, sikap baik sangka juga diikuti istrinya Siti Hajar ya pun siap ditempatkan di Mekah karena hal itu merupakan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Lanjut Ali Baham, bahwa pelajaran berikutnya dari Nabi Ibrahim Alaihissalam adalah menghidupkan suasana dialogis dalam keluarga, meskipun berbaik sangka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala melaksanakan perintahnya, jika ada kaitanya dengan orang lain harus ada dialog harus ada musyawarah.
‘’Dalam kehidupan sekarang suasana dialogis dalam keluarga amat dibutuhkan, kesibukan rutin telah menghilangkan suasana dialogis,’’ tuturnya.(rustam madaubun)














