Papua Barat

Senja yang Menembus Kabut Asap di Teluk Doreri

606
×

Senja yang Menembus Kabut Asap di Teluk Doreri

Sebarkan artikel ini
Di tepian Kwawi, sang surya menguntai salam perpisahan dalam semburat jingga. Lampu-lampu taman mulai berkedip, seolah menyambut rembulan yang siap bertahta. Sungguh syahdu, pesona sore di ufuk timur. FOTO: RUSTAM MADUBUN.PAPUADALAMBERITA.COM

FEATURE: *Rustam Madubun

PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI-Perlahan, jarum jam menuju pukul 18.00 WIT.

Matahari mulai memerah, perlahan melepas siang dan menjemput senja dari ufuk barat.

Cahayanya yang jingga menyentuh permukaan laut Teluk Doreri, teluk yang membelah kawasan Kwawi dan Arfai, Manokwari, Papua Barat.

Laut sore itu begitu tenang. Nyaris tak ada ombak, tak terdengar gelombang yang memecah pantai.

Di Caffee Senja Dore, Kwawi, anak-anak masih asyik bermain dan mandi di air laut.

Tawa mereka sesekali pecah, bercampur dengan suara percikan air yang disentuh tangan dan tubuh-tubuh kecil yang belum ingin beranjak dari rendaman air asin.

Berdiri sejenak, menyaksikan matahari tenggelam dan menyadari betapa indahnya sebuah akhir.FOTO: FOTO SELFIE RUSTAM MADUBUN.PAPUADALAMBERITA.COM

Senja hari Kamis, 27 Agustus 2026, itu saya nikmati seorang diri.

Tak ada siapa-siapa di samping saya.

Hanya laut, langit, kabut, dan suara anak-anak yang menjadi teman menikmati pergantian hari.

Dari kejauhan, bentangan kawasan Arfai tampak seperti lukisan yang belum selesai. Kabut tipis dan asap menyelimuti daratan, membuat pulau dan pesisir di seberang teluk tampak samar.

Langit Manokwari masih menyisakan warna merah dan jingga, sementara awan abu-abu perlahan memayungi kota.

Kabut asap seolah ingin menutup keindahan senja.

Namun justru dari balik selimut tipis itu, keindahan lain muncul—lebih lembut, lebih hening, dan terasa dekat.

Tidak ada hembusan angin. Suasana begitu teduh.

Di atas laut, lampu-lampu kapal mulai menyala satu per satu. Dari kejauhan, cahaya dari rumah-rumah perlahan tampak seperti titik-titik bintang yang jatuh ke bumi.

Ketika matahari perlahan pergi, bulan perlahan bangkit dari timur. Dua cahaya bertemu di kulit air Teluk Doreri senja dan malam berpelukan dalam satu keindahan.Seperti alam sedang berbisik kepada hati..FOTO: RUSTAM MADUBUN.PAPUADALAMBERITA.COM

Teluk Doreri berubah menjadi hamparan gelap yang dihiasi cahaya.

Pukul 18.25 WIT.

Anak-anak itu masih belum beranjak dari air.

Mereka seakan lupa bahwa malam sebentar lagi datang. Air laut masih menjadi tempat bermain, sementara senja perlahan benar-benar menyerahkan dirinya kepada malam.

Lalu, dari arah timur, bulan mulai terlihat semakin jelas.

Bulatannya begitu sempurna, perlahan memerah di balik langit senja yang mulai gelap.

Ia hadir seperti sebuah lukisan besar di langit Manokwari—diam, tenang, tetapi begitu memukau.

Saya terdiam cukup lama.

Di hadapan saya, alam seperti sedang bercerita bahwa keindahan tidak selalu hadir dalam keadaan yang sempurna.

Senja di Kwawi: saat air laut menjadi kanvas bagi kebahagiaan sederhana anak-anak pesisir.FOTO: RUSTAM MADUBUN.PAPUADALAMBERITA.COM

Bahkan ketika kabut asap menyelimuti sebagian bentang Teluk Doreri, ketika langit tak lagi biru dan matahari sebentar lagi menghilang, masih ada alasan untuk berhenti sejenak dan mengagumi ciptaan-Nya.

Senja itu mengajarkan saya untuk melihat lebih pelan.

Melihat cahaya yang tersisa di langit.

Mendengar percikan air. Menyaksikan anak-anak yang belum ingin pulang. Menatap lampu kapal yang muncul satu per satu. Hingga akhirnya memandang bulan yang menggantung sempurna dari timur.

Teluk Doreri sore itu tidak hanya menyuguhkan pemandangan.

Ia menghadirkan ketenangan.

Dan dalam kesunyian yang saya nikmati seorang diri, hanya satu kalimat yang terucap dalam hati: Ya Allah, indahnya ciptaan-Mu hari ini.*(pemred papuadalamberita.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *