Papua Barat

Sosialisasi Mitigasi Bencana dan Pembagian Bahan Pokok

96
×

Sosialisasi Mitigasi Bencana dan Pembagian Bahan Pokok

Sebarkan artikel ini

Pembagian bahan makan Yayasan Sadar Informasi. PAPUADALAMBERITA. FOTO: YAYASAN SADAR INFORMASI

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Membangun kesadaran dan kapasitas masyarakat menghadapi bencana merupakan salah satu upaya, untuk meminimalisir dampak bencana yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Salah satunya adalah melalui mitigasi bencana.

Selaras dengan upaya membangun kapasitas dan kesadaran tersebut, Yayasan Sadar Informasi melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa sosialisasi mitigasi bencana di Kampung Demaisi, Distrik Minyambouw, Kabupaten Pegunungan Arfak, kegiatan ini dirangkai dengan pembagian bahan pokok kepada masyarakat di 5 kampung (Demaisi, Memangker, Imbrekti, dan dua kampung lainnya).

Ketua Yayasan Sadar Informasi Abdul Razid Fatahuddin mengatakan, tujuan sosialisasi mitigasi bencana adalah dalam rangka membangun kesadaran dan kapasitas masyarakat agar mampu secara mandiri melakukan upaya-upaya penanggulangan bencana saat terjadi bencana.

“Sosialisasi mitigasi bencana yang dilaksanakan ini diharapkan memberikan informasi kepada masyarakat sehingga menjadi pengetahuan soal potensi bencana yang ada di lingkungan sekitar, membangunan kesiapsiagaan dini, dan menggerakkan potensi masyarakat dalam upaya penanggulangan bencana yang dilakukan secara mandiri,” katanya.

Kegiatan sosialisasi mitigasi bencana dan pembagian bahan pokok, ini dipusatkan di balai kampung Demaisi, menghadirkan 4 orang fasilitator dari Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Provinsi Papua Barat dan kabupaten Manokwari masing-masing, Samuel Wambrauw, Rony Tamela, Abdul Djalil, dan Nur Rahimi Astuti. Kegiatan ini turut dihadiri tokoh masyarakat Pegunungan Arfak Origenes Wonggor.

Diketahui, kabupaten Pegununungan Arfak memiliki luas mencapai 2,773,74 km2, membawahi 10 distrik (Anggi, Anggi Gida, Didohu, Minyambouw, Sururey, Taige, Testega, Catubouw, Hingk, Membey). Dengan ketinggian wilayah (altitude) kabupaten Pegunungan Arfak adalah 300 – 1.800 meter di atas permukaan laut.

Wilayah Pegunungan Arfak termasuk dalam kawasan Hutan Lindung dan Cagar Alam. Oleh sebab itu, dalam perencanaan pemanfaatan ruang untuk pembangunan di daerah tersebut agar dilakukan secara hati-hati. Tidak berbenturan dengan aturan mengenai pengelolaan pemanfaatan kawasan dan atau implikasi pemanfaatan kawasan dalam kaitan dengan bahaya ekologis atau sustainabilitas wilayah.

Dari segi fisiografi, distrik dengan persentasi wilayah paling banyak masuk dalam kategori extremly steep (sangat curam dengan kemiringan 40%) adalah Minyambouw (73,83%), diikuti oleh Membey (66,32%) sedangkan distrik dengan flat (kategori berbukit dengan kemiringan 75%.

Kondisi geologi proses terbentuknya Pegunungan Arfak banyak dipengaruhi oleh lipatan dan patahan/sesar, yakni Sesar Sorong (SFZ), Sesar Ransiki (RFZ), Sesar Lungguru (LFZ), dan Sesar Tarera-Aiduna (TAFZ).

Keadaan ini dapat menyebabkan daerah kabupaten Pegunungan Arfak termasuk kawasan rawan bencana khususnya gempa bumi. Selain gempa bumi, pontensi bencana longsong hampir terdapat di seluruh kawasan di hampir semua distrik dan kampung-kampung di wilayah kabupaten Pegunungan Arfak.

Dikatakan demikian, sebab distrik dan kampung-kamung di wilayah kabupaten ini terletak di lembah-lembah kecil (uvale) yang dikelilingi/dipagari oleh pegunungan yang menjulang tinggi.
Rony Tamela mengatakan, ketangguhan menjadi penting di tengah situasi perubahan iklim yang tidak menentu. Dengan demikian, ketangguhan itu mesti dibangun dari tingkat kampung dalam rangka membangun ketangguhan secara struktural.

“Kami sangat berterima kasih bisa dilibatkan dengan kegiatan sosialisasi seperti ini, bisa memberikan informasi dan mengenalkan soal beberapa ancaman bencana kepada masyarakat di kampung sekaligus apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana,” kata Rony.

Membangun ketangguhan, menurut Rony, bukan berharap terjadinya bencana. Akan tetapi bertujuan meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam melakukan evakuasi mandiri saat terjadi bencana.

Ketua FPRB Manokwari ini berharap upaya mitigasi bencana yang sudah diisinasi melalui kegiatan sosialisasi kali ini, dapat dipelihara dan tindaklanjuti oleh institusi terkait di lingkup kabupaten Pegunungan Arfak.
Mengingat, mitigasi bencana mesti dilakukan secara berkelanjutan oleh pemerintah daerah.

Sehingga, masyarakat menjadi paham dan memiliki pengetahuan cukup dalam hal penanggulangan bencana. Demikian diungkapkan Origenes Wonggor yang juga menjabat sebagai ketua DPR Papua Barat (DPRPB)

“Sosialisasi mitigasi bencana sudah kita lakukan diharapkan bisa ditindaklanjuti, tidak terbatas saja di satu daerah. Kesempatan ini, masyarakat di kampung Demaisi, akan lebih baik masyarakat di kampung-kampung di daerah ini harus diedukasi dalam hal penanggulangan bencana. Karena wilayah Pegunungan Arfak ini memiliki potensi bencana tinggi,” tutup Wonggor.

Kepala Kampung Demaisi, Isak Ullo menyampaikan ucapan terima kasih atas pelaksanaan sosialisasi mitigasi bencana di wilayahnya. Ia berharap, kegiatan ini dapat ditindaklanjuti dengan skala yang lebih luas sehingga membangun kesadaran dan kapasitas masyarakat atas potensi bencana yang ada di sekitar lingkungannya.

“Kami di kampung ini sudah diberikan pemahan tentang kebencanaan. Harapannya titik-titik rawan yang ada di daerah ini bisa segera disikapi dengan tindakan nyata. Kerja sama seperti ini mesti ditingkatkan di waktu ke depannya. Kami juga berterima kasih kepada Bapak Origenes Wonggor yang sudah ikut hadir dan bertemu dengan masyarakat kampung,” pungkasnya.(rilis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *