PAPUADALAMBERITA.COM, MANOKWARI – Hans Mandacan, pemandu wisata (tour guide) di Kampung Wisata Kwau, Distrik Mokwam, Kabupaten Manokwari Papua Barat, mengungkapkan bahwa desa mereka kini menjadi destinasi favorit wisatawan mancanegara, terutama untuk kegiatan bird watching dan wisata budaya.
Baca juga: Gubernur Gandeng Unipa Dorong Warga Kwau Belajar Bahasa Asing, Ingatkan Stop Senapan Angin
Dalam wawancara di Kampung Kwau, Sabtu (20/9/2025), Hans menjelaskan bahwa setiap bulan rata-rata sekitar 60 wisatawan berkunjung. Mereka berasal dari berbagai negara, di antaranya Australia, Amerika, Korea, Israel, Palestina, Lebanon, dan Italia.
“Program unggulan di sini adalah bird watching dan budaya. Di kawasan kami ada sekitar 12 jenis burung Cenderawasih. Banyak wisatawan yang bahkan tinggal hingga satu bulan,” ungkap Hans.
Ia menambahkan, kunjungan wisatawan membawa dampak ekonomi bagi warga, mulai dari porter, penyedia homestay, hingga ibu-ibu yang menyiapkan makanan. Saat ini terdapat sekitar 10 kamar homestay di kampung tersebut yang bisa menampung tamu, meski ketersediaannya masih terbatas.
“Kendala kami pertama adalah akses jalan. Kedua, homestay harus diperbanyak, karena kalau penuh kami terpaksa menolak tamu lain. Ketiga, jaringan internet dan listrik juga harus ditingkatkan, karena selama ini masih bergantung pada genset,” jelasnya.
Hans, putra asli Arfak berusia 66 tahun, telah menjadi pemandu wisata sejak 17 tahun lalu. Ia fasih berbahasa Indonesia dan Inggris, serta dikenal luas setelah namanya masuk dalam Lonely Planet, sebuah majalah wisata internasional.
“Sejak 2017, ada wisatawan Belanda dan Amerika yang datang, mereka ambil data tentang saya lalu mempublikasikannya di Lonely Planet. Dari situ, banyak wisatawan yang kemudian menghubungi saya,” tutur Hans.
Menurutnya, tarif homestay di Kwau sekitar Rp180 ribu per orang per malam. Wisatawan biasanya memesan dalam jumlah bervariasi, ada yang untuk 5 malam, 7 malam, bahkan hingga satu bulan.
“Biasanya sebelum belanja, saya tanya dulu apa makanan yang mereka suka, agar bisa menyesuaikan antara bahan lokal dengan kebutuhan tamu,” katanya.
Hans berharap pemerintah daerah lebih serius memperhatikan infrastruktur penunjang desa wisata, karena Kwau kini bukan hanya menjadi kebanggaan warga Arfak, tetapi juga wajah Papua Barat di mata dunia.(rustam madubun)













