PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, M.Si memberikan apresiasi terhadap tata kelola keuangan yang diterapkan oleh Hans Mandacan selaku pengelola Kampung Wisata Kwau di Distrik Mokwam, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.
Baca juga: Gubernur Gandeng Unipa Dorong Warga Kwau Belajar Bahasa Asing, Ingatkan Stop Senapan Angin
Menurut Gubernur, pengelolaan yang dilakukan Hans bersama masyarakat di Kwau dapat menjadi contoh bagi destinasi wisata lain di Papua Barat.
“Mereka laporkan dan setiap pendapatan itu dibukukan. Ini bagus. Dari Januari semua penghasilan yang diperoleh dari wisatawan ditabung. Lalu diambil Desember dan dibagikan sesuai presentasi yang sudah dijelaskan,’’ Dominggus Mandacan yang ditemui wartawan di Kampung Wisata Kwau, Sabtu (20/9/2025).
‘’Misalnya 10 persen untuk keagamaan, 20 persen untuk pendidikan terutama mahasiswa, dan 5 persen untuk operasional,” sambung gubernur Mandacan.
Dominggus Mandacan menegaskan, sistem yang diterapkan masyarakat Kwau menjadi praktik pengelolaan wisata berbasis komunitas yang patut ditiru.
“Pengelola lokasi wisata lain di Papua Barat perlu belajar dari mereka. Kwau ini punya kekuatan, baik dari sisi hutan alam, ragam hayati, maupun jenis-jenis burung endemik yang menarik wisatawan datang ke sini,” tegas Gubernur.
Selain potensi wisata alam, Gubernur juga menyoroti homestay yang dikelola masyarakat. Wisatawan bisa menikmati suasana alam, tidur dengan suara burung dan jangkrik, hingga menikmati hasil pertanian lokal.
“Ke depan Pemprov Papua Barat akan berkolaborasi dengan Kabupaten Manokwari untuk meningkatkan infrastruktur, khususnya jalan masuk yang perlu diaspal. Telekomunikasi juga akan diperkuat agar wisatawan maupun pengelola bisa terhubung dengan Manokwari bahkan ke luar negeri. Homestay juga akan kita dukung sesuai kemampuan yang ada,” tambahnya.

Sementara itu, lokal guide Hans Mandacan menyebutkan, pengelolaan keuangan Kampung Wisata Kwau dilakukan secara transparan dan adil.
Pada tahun 2024, pihaknya mencatat pendapatan sebesar Rp1,3 miliar.
Sementara hingga September 2025, sudah terkumpul Rp750 juta dari retribusi dan penginapan.
“Sistem pembagian kami jelas. Sepuluh persen untuk gereja, 40 persen untuk masyarakat lanjut usia, 20 persen untuk anak-anak berpendidikan, 25 persen untuk renovasi fasilitas wisata di guest house, dan 5 persen untuk biaya operasional,” papar Hans.
Menurut Hans, transparansi inilah yang membuat pengelolaan wisata Kwau berjalan baik dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat.(rustam madubun)













