fbpx
Zaitun penjaja makanan di Kapal Pelni saat bersandar di Dermaga Manokwari, Jumat (24/1/2020). FOTO: rustam madubun/papuadalamberita.com PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Zaitun meneruskan pekerjaan ibunya sebagai... Bantu Suami Biayai Tiga Anak Sekolah, Zaitun Jualan Makanan di Kapal

Zaitun penjaja makanan di Kapal Pelni saat bersandar di Dermaga Manokwari, Jumat (24/1/2020). FOTO: rustam madubun/papuadalamberita.com

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Zaitun meneruskan pekerjaan ibunya sebagai penjaja makanan di atas kapal Pelni yang merapat di pelabuhan Manokwari Papua Barat sejak tahun akhir 1999.

‘’Yah sekitar tahun 1999 atau tahun 2.000 saya sudah berjualan makanan di atas kapal,’’ ujarnya kepada papuadalamberita.com Jumat (24/1/2020) seusai berjualan buras dan ikan goreng saat KM Gunung Dempo merapat di Manokwari.

Ia belajar berjualan di kapal ketika mengikuti ibunya kala itu. Setelah dewasa Ia meneruskan profesi sang ibunya.

Zaitun merasa bahagia karena hasil dari kerja kerasnya dapat menyekolahkan tiga putra putrinya saat ini.

‘’Anak pertama saya cewe di SMP, yang kedua SD dan ketiga masih kecil,’’ ujarnya..

Warga yang bermukim di Borasi Pantai, Manokwari Papua Barat ini ikut berperan mencari nafkah untuk keluarganya lantaran suaminya seharian mengikut orang sebagai nelayan yang penghasilnnya tidak tetap.

Buras dan ikan goreng jajanan yang dijajakan Zaitun di kapal. FOTO: rustam madubun/papuadalamberita.com.

‘’Saya harus bekerja membantu suami saya untuk bayar sekolah anak-anak dan kebutuhan hidup kami, ’’ ujar istri seorang nelayan lepas di Manokwari.

Dengan modal menjakan buras serta ikan goreng, 20 tahun sudah Ia mengeluti jualan makanan keliling di atas kapal, Ia mengaku kebutuhan keluarganya tercukup karena ikut ditopang dari penghasilan melaut sang suaminya.

‘’Setiap kapal putih (istilah untuk Kapal penumpang milik PT PELNI) masuk saya berjualan, kalau masuk malam yah jualannya malam, kami sesuaikan jadwal kapal saja,,’’ jelasnya saat melayani papuadalamberita.com yang membeli satu paket (buras dan ikan cakalang goreng) jualannya.

Sebelum manajemen kapal membatasi jualan air gelas dan botol kepada penjual keliling di kapal saat kapal bersandar di dermaga. Ia mengaku penghasilnya bisa mencapai Rp700.000-Rp800.000.

‘’Sekarang kita jual makanan saja, air botol atau gelas sudah dilarang dijual di kapal, jadi saya kadang dapat Rp350.000, Rp500.000 juga, apa lagi dalam sehari dua atau tiga kapal yang masuk,’’ rincinya.

Selama berjualan Ia mengakui belum pernah mengalami gangguan keamanan, atau jualannya di ambil tanpa bayar dari penumpang dan warga.

‘’Kami juga harus menjaga kebersihan, tidak membuang sembarang sampah saat di kapal, selama ini baik-baik saja, petugas Pelni, buru pelabuhan atau orang kapal juga baik-baik,’’ kisahnya.

‘’Selama masih kuat, sehat yah saya berjualan makanan seperti ini, Alhamdulillah, Insallah berjualan terus, ‘’ terang ibu tiga anak.(tam)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Tidak Bisa Dicopy !!