PAPUADALAMBERITA.COM. FAKFAK – Upaya besar memperkuat layanan kesehatan ibu dan bayi di Tanah Papua mulai memasuki babak baru. UNICEF bersama Pemerintah Indonesia dan Korea International Cooperation Agency (KOICA) resmi mematangkan desain program EMBRACE Papua (Equity on Maternal and Neonatal Care).
Program strategis ini ditujukan untuk menekan tingginya angka kematian ibu dan bayi di Papua dengan target capaian hingga tahun 2029.
Langkah ini dimatangkan dalam Lokakarya Penajaman Desain Program Penguatan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi di Tanah Papua yang berlangsung di Jayapura, Selasa (19/5/2026). Forum ini melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, hingga tokoh adat dan agama.
Pelaksana Harian Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kementerian PPN/Bappenas, Inti Wikanestri, menegaskan bahwa Papua masih menghadapi tantangan serius dalam pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.
“Berdasarkan Survei Long Form BPS Tahun 2020, angka kematian ibu dan bayi di Tanah Papua masih dua hingga tiga kali lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Kondisi ini membutuhkan intervensi yang terarah, kuat, dan sesuai karakteristik wilayah Papua,” ujar Inti.
Untuk menjawab tantangan tersebut, program EMBRACE Papua dibangun di atas tiga pilar utama, yakni : Penguatan kapasitas tenaga kesehatan, Penguatan sistem layanan kesehatan daerah, Pemberdayaan masyarakat dalam perawatan ibu dan bayi.
Chief of Field Office UNICEF Papua, Aminuddin Mohammad Ramdan, menyatakan bahwa pendekatan pelayanan kesehatan di Papua tidak bisa disamakan dengan daerah lain karena kompleksitas geografisnya.
Direktur RSUD Fakfak Farid Fauzan Mahubessy, S.Kep., M.A.R.S., Ketika Mengikuti Lokakarya Penajaman Desain Program Penguatan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi di Tanah Papua. Kamis (21/05/2026). FOTO : ENRICO. PAPUADALAMBERITA.COM.
“Papua memiliki bentang wilayah yang unik, mulai dari pegunungan, dataran rendah, pesisir rawa hingga kepulauan. Karena itu strategi pelayanan kesehatan harus kontekstual dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah,” kata Aminuddin.
Saat ini, terdapat tujuh kabupaten yang dipilih sebagai wilayah percontohan dengan tantangan sosial dan geografis yang berbeda-beda, di mana pemerintah daerah dilibatkan langsung untuk menyusun strategi yang tepat sasaran.
Dalam forum tersebut, Kabupaten Fakfak mendapat perhatian khusus. Fakfak dipilih sebagai model pengembangan layanan sekaligus calon learning center (pusat pembelajaran) pelayanan maternal dan neonatal di wilayah Papua Barat.
dr. Ahmad Naki menjelaskan dua alasan utama pemilihan Fakfak:, yakni : Adanya keberpihakan dan dukungan yang kuat dari bupati hingga seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terhadap kesehatan ibu dan anak, dan Wilayah Fakfak dinilai ideal karena merepresentasikan karakter geografis Papua secara utuh, mulai dari kawasan pesisir hingga pegunungan.
Ke depan, RSUD Fakfak akan dikembangkan tidak hanya untuk melayani pasien, tetapi juga sebagai pusat pelatihan dan pengembangan kompetensi tenaga medis di kawasan Papua Barat.
Beberapa langkah strategis peningkatan fasilitas dan mutu meliputi:
1./ Peningkatan kapasitas layanan NICU, PICU, serta layanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal menuju standar Rumah Sakit PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif).
2./ Mengawal sistem pendidikan dan pelatihan di RSUD Fakfak hingga memperoleh Akreditasi C dari Kementerian Kesehatan melalui bidang Mutu dan SDM.
3./ Target menyelenggarakan Training of Trainers (TOT) bersertifikat bagi sedikitnya 25 tenaga kesehatan.
4./ Untuk kasus-kasus emergensi yang membutuhkan fasilitas lebih lengkap, pasien nantinya akan dirujuk ke rumah sakit regional, termasuk di Makassar.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, Rimosan, menilai program ini sangat relevan di tengah keterbatasan anggaran daerah akibat efisiensi fiskal yang sedang berlangsung. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pusat dan daerah.
“Penguatan tenaga kesehatan, sistem pelayanan kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat harus berjalan bersama. Tanpa itu, upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi tidak akan maksimal,” tegas Rimosan.
Melalui program EMBRACE Papua, pemerintah dan mitra pembangunan berharap lahir model pelayanan kesehatan ibu dan bayi yang lebih adaptif, inklusif, dan mampu menjangkau wilayah terpencil.
Jika program ini berhasil, Fakfak tidak hanya akan menjadi pusat pembelajaran di Papua Barat, tetapi juga berpotensi menjadi contoh nasional dalam membangun pelayanan kesehatan berbasis pendekatan geografis, budaya, dan kebutuhan masyarakat lokal.(rls)













