Papua Barat

Gubernur Papua Barat Ajak Semua Pihak Bangun Peradaban Pendidikan dari Keluarga

217
×

Gubernur Papua Barat Ajak Semua Pihak Bangun Peradaban Pendidikan dari Keluarga

Sebarkan artikel ini
Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan bersama Bupati Teluk Wondama menghadiri Ibadah Syukur 101 Tahun Peradaban Orang Papua dan Deklarasi Pembangunan Peradaban Pendidikan Menuju Abad Kedua Peradaban di Aitumieri, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, Minggu (25/10/2026). FOTO: ISTIMEWA.PAPUADALAMBERITA

PAPUADALAMBERITA.COM.WONDAMA – Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mengajak pemerintah, gereja, lembaga adat, keluarga, dan generasi muda memperkuat kolaborasi untuk membangun peradaban pendidikan orang Papua dalam memasuki abad kedua.

Pendidikan yang berakar pada nilai iman, budaya lokal, dan pembentukan karakter dinilai menjadi fondasi penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mengurangi kemiskinan di Papua Barat.

Ajakan tersebut disampaikan Dominggus Mandacan dalam sambutannya pada Ibadah Syukur 101 Tahun Peradaban Orang Papua dan Deklarasi Pembangunan Peradaban Pendidikan Menuju Abad Kedua Peradaban, di Aitumieri, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, Minggu (25/10/2026).

Menurut Dominggus, peringatan 101 tahun peradaban pendidikan orang Papua bukan sekadar momentum mengenang perjalanan sejarah, melainkan kesempatan untuk memperbarui komitmen bersama dalam menyiapkan generasi Papua yang berkarakter, berpengetahuan, dan mampu menentukan masa depannya.

Ia mengingatkan, perjalanan pendidikan orang Papua yang dirintis sejak 1925 melalui peran para guru, pendeta, dan tokoh adat, termasuk Pendeta Izaak Samuel Kijne, merupakan warisan penting yang harus terus dihidupkan melalui kebijakan pembangunan dan pendidikan dalam keluarga.

“Warisan mereka adalah keyakinan bahwa manusia Papua bermartabat dan mampu menentukan masa depannya,” demikian pesan Dominggus dalam sambutannya.

Dominggus mengapresiasi tema Membangun Peradaban dari Rumah yang diangkat dalam kegiatan tersebut. Ia juga menyoroti filosofi Wondama, yakni “Setiap rumah adalah sekolah dan setiap orang adalah guru”, sebagai landasan pembentukan karakter generasi muda Papua.

Menurut dia, pendidikan tidak semata-mata berlangsung di ruang kelas, tetapi juga tumbuh melalui pola asuh keluarga, keteladanan pemimpin, nilai-nilai adat, serta bimbingan tokoh agama dan masyarakat.

Orang tua, kata Dominggus, merupakan pendidik pertama bagi anak-anak. Sementara itu, guru berperan menumbuhkan kecerdasan, tokoh adat dan agama menjaga nilai-nilai luhur, serta para pemimpin berkewajiban memberikan teladan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia berharap pendekatan pembangunan pendidikan yang menempatkan keluarga sebagai fondasi pembentukan karakter dapat menjadi inspirasi bagi kabupaten lain di Papua Barat.

Pemerintah Provinsi Papua Barat, lanjut Dominggus, berkomitmen bekerja sama dengan gereja, pemerintah kabupaten, dan lembaga adat untuk menjaga nilai-nilai budaya serta membentuk manusia Papua yang berkarakter, menghormati sesama, dan terbuka terhadap perkembangan zaman.

Selain menekankan pentingnya pendidikan karakter, Dominggus menyampaikan bahwa pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan masih menjadi tantangan yang perlu ditangani bersama.

Ia menegaskan, setiap anak Papua, baik yang tinggal di perkotaan maupun kampung dan wilayah pesisir terpencil, harus memperoleh pendidikan yang layak.

Upaya tersebut membutuhkan ketersediaan guru yang memadai dan sejahtera, fasilitas sekolah yang layak, serta peningkatan kualitas pembelajaran.

Pemerintah Provinsi Papua Barat juga berkomitmen memperkuat pendidikan berbasis budaya lokal, meningkatkan literasi dan numerasi, memperluas pemanfaatan teknologi digital, serta mendorong pemerataan tenaga pendidik dan sarana pendidikan.

Di samping itu, pendidikan vokasi, kewirausahaan, penelitian, dan inovasi dinilai penting untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan ekonomi dan persaingan global.

Dominggus juga menyinggung gagasan pendirian Politeknik Izaak Samuel Kijne di Wondama. Menurut dia, gagasan tersebut patut dikaji lebih lanjut melalui studi kelayakan, kemitraan dengan perguruan tinggi, dan perencanaan pembiayaan yang berkelanjutan.

Dalam kesempatan itu, Dominggus mengingatkan bahwa pembangunan pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Keterlibatan keluarga, gereja, masyarakat adat, pemuda, dan lembaga pendidikan diperlukan agar upaya membangun peradaban pendidikan dapat berjalan secara berkelanjutan.

Ia juga mengajak seluruh pihak menjaga situs-situs bersejarah di Aitumieri sebagai bagian dari warisan perjalanan pendidikan orang Papua, sembari terus membuka ruang bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menjelang pembacaan deklarasi dan penandatanganan prasasti, Dominggus meminta agar kegiatan tersebut dimaknai sebagai janji bersama untuk memperkuat pendidikan, bukan sekadar seremoni peringatan.

Kepada para guru, ia menyampaikan apresiasi atas peran mereka dalam mendidik generasi muda. Ia juga mengajak orang tua menjadikan rumah sebagai tempat belajar yang penuh kasih, para pemimpin menjadi teladan, dan generasi muda tekun menuntut ilmu tanpa meninggalkan identitas budaya.

Peringatan 101 tahun peradaban pendidikan orang Papua di Aitumieri menjadi momentum untuk menegaskan kembali pentingnya kesinambungan sejarah, pendidikan, dan pembangunan manusia Papua.

Melalui kolaborasi lintas sektor, pemerintah berharap fondasi pendidikan yang telah dirintis sejak 1925 dapat dikembangkan untuk menjawab tantangan abad kedua.(rustam madubun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *