PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Di antara deretan stand UMKM yang berjejer rapi di halaman Gedung Dharma Wanita Persatuan (DWP) Papua Barat, Arfai Manokwari, Senin hingga Selasa (25–26/8/2025), tampak satu sudut yang penuh warna khas Papua.
Stand itu milik Pesona Arfak Doreri, UMKM yang dirintis oleh Lilis Kawai, seorang ibu rumah tangga asal Pulau Mansinam.
Lilis, ibu dua anak, putra sulungnya sudah lulus SMA dan si bungsu masih duduk di bangku kelas dua SMA.
Ia, sudah tiga tahun terakhir menekuni kerajinan tradisional Papua.
Di tangannya, noken, manik-manik, hingga mahkota adat pria dan wanita lahir dari ketekunan
dan kecintaannya pada budaya leluhur.
Tanpa Gerai Tetap, Hanya Andalkan Pameran
Berbeda dengan pelaku UMKM kuliner yang produknya cepat ludes, kerajinan khas Papua buatan Lilis tidak selalu habis terjual.
Namun, ia tetap bersyukur.
“Kadang di pameran laku dua atau tiga mahkota. Itu saja saya sudah sangat bersyukur,” ujarnya polos saat berbincang dengan papuadalamberita.com.
Lilis mengaku tidak memiliki outlet, kios atau toko permanen untuk memasarkan hasil karyanya.
Ia hanya mengandalkan momentum pameran UMKM atau menjual langsung dari rumah.
Sesekali, produk karyanya juga ia pasarkan lewat media sosial, terutama Facebook.
“Saya cuma jual di rumah saja. Kalau ada event UMKM baru saya bawa. Setiap ada kesempatan pameran, saya selalu tampil,” ungkapnya.
Dari Sorong hingga Pasar Sanggeng
Dalam merajut mahkota pria, Lilis harus mendatangkan bulu kasuari dari Sorong, Papua Barat Daya.
Sementara untuk mahkota wanita, bahan dasarnya lebih mudah ia temui di Pasar Sanggeng, Manokwari.
“Kalau mahkota wanita, bahan bakunya bulu ayam yang ada di pasar. Dalamnya dilapisi karpet dan ditutup kain. Kalau noken, semua saya sulam dengan tangan sendiri,” jelasnya.
Dari Penjual Kue ke Perajin Budaya
Sebelum menekuni kerajinan tangan, Lilis sempat berjualan kue.
Namun, ia kemudian merasa membuat aksesoris dan kerajinan Papua justru lebih memberi nilai jangka panjang, meski tidak selalu menghasilkan setiap hari.
“Saya lihat peluangnya lebih bagus. Selain itu, saya bisa ikut melestarikan budaya Papua lewat kerajinan ini,” tuturnya.
Inspirasi itu datang dari berbagai kegiatan adat yang ia hadiri. Dari sanalah lahir keinginannya untuk merajut karya yang bernafaskan budaya Papua.
Pesan untuk Generasi Muda
Bagi Lilis, setiap helai noken, manik-manik, atau mahkota adat yang ia rajut bukan sekadar produk untuk dijual. Ia menyimpan pesan yang ingin diwariskan kepada generasi mendatang.
“Kita harus jaga budaya. Supaya anak cucu tahu bahwa kita punya identitas. Jangan sampai semakin hari budaya ini hilang,” pesannya penuh harap.
Pameran UMKM yang digelar DWP Papua Barat tahun ini mengangkat tema **“UMKM Hebat, Ekonomi Kuat”, dan diikuti 54 pelaku UMKM dari berbagai kabupaten/kota. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Papua Barat, Melkias Werinussa, SE., M.Si.
Di tengah semaraknya pameran, kisah sederhana Lilis Kawai menghadirkan makna yang lebih dalam: bahwa UMKM bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan juga jalan menjaga warisan budaya Papua tetap hidup dari generasi ke generasi.(rustam madubun)













