Papua Barat

Natal di Teluk Patipi, Uskup Datus Lega: Hadiah Natal Terbaik adalah Pengakuan Dosa

248
×

Natal di Teluk Patipi, Uskup Datus Lega: Hadiah Natal Terbaik adalah Pengakuan Dosa

Sebarkan artikel ini
Uskup Keuskupan Manokwari - Sorong
Uskup Mrg. Hilarion Datus Lega Bersama Umat di Gereja Katolik Stasi St. Albertus Puar, Distrik Teluk Patipi. Rabu (24/12/2025). FOTO : ISTIMEWA. PAPUADALAMBERITA.COM.

​PAPUADALAMBERITA.COM. FAKFAK – Umat Katolik di Kampung Puar dan Us Adora, Distrik Teluk Patipi, Kabupaten Fakfak, merasakan sukacita Natal yang istimewa tahun ini. Karena pemimpin umat Katolik Keuskupan Manokwari – Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, hadir secara langsung untuk memimpin perayaan Misa Malam Natal di Gereja Katolik Santo (St) Albertus Puar bersama umat Kampung Us Adora, Rabu malam (24/12/2025).

​Kehadiran pimpinan umat Katolik di wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya ini disambut hangat warga kampung. Meski berada di wilayah Distrik yang cukup jauh dari pusat kota, Antusiasme umat untuk mengikuti liturgi kelahiran Yesus Kristus tetap tinggi dan penuh khidmat.

Dalam khotbahnya, Mgr. Hilarion mengisahkan kembali perjalanan tiga orang Majus, Baltasar, Gaspar, dan Melkior, yang datang membawa emas, kemenyan, dan mur. Namun, ia menarik perhatian umat pada kisah para gembala yang sempat bingung memikirkan hadiah apa yang layak bagi Sang Immanuel.

“Yesus adalah Putra Allah yang memiliki segalanya. Jika kita ingin memberi hadiah yang benar-benar membuat-Nya senang, kita harus memberikan sesuatu yang tidak dimiliki oleh Tuhan,” ujar Mgr. Hilarion.

Uskup Keuskupan Manokwari – Sorong, Mrg. Hilarion Datus Lega, Ketika Memimpin Misa Malam Natal di Gereja Katolik Stasi St. Albertus Puar, Distrik Teluk Patipi. Rabu (24/12/2025). FOTO : ISTIMEWA. PAPUADALAMBERITA.COM.

Pemimpin umat Katolik di Papua Barat dan Papua Barat Daya ini, kembali melontarkan pertanyaan reflektif: Apa yang tidak dimiliki oleh Tuhan yang Mahakuasa? Jawabannya adalah Dosa. Tuhan Yesus menjadi manusia dalam segala hal, namun Ia tidak berdosa. Oleh karena itu, hadiah paling berharga yang bisa dibawa manusia ke palungan-Nya adalah pengakuan dosa dan kerendahan hati.

Uskup Hilarion Datus Legas, kembali menekankan bahwa merayakan Natal bukan berarti memamerkan kesucian atau jasa-jasa kita di hadapan Tuhan. Dia mengingatkan agar umat tidak terjebak dalam sikap sombong seperti orang Farisi yang merasa lebih benar dari sesamanya.

“Jangan datang dengan kesombongan karena merasa telah membangun gereja atau melakukan banyak amal. Sebaliknya, datanglah dengan doa yang rendah hati: ‘Ya Allah, ampunilah aku orang yang berdosa ini,'” pesannya.

Menurut Mgr. Hilarion, justru melalui pengakuan akan “kekosongan hidup” dan “kehinaan” itulah, karya keselamatan Tuhan dapat bekerja secara maksimal. Bayi Yesus lahir sebagai Juru Selamat justru karena manusia membutuhkan pengampunan.

Menutup khotbahnya di hadapan umat Katolik di Distrik Teluk Patipi, Uskup mengajak umat untuk sering-sering mempersembahkan diri apa adanya, dengan segala kekurangan dan kedosaan, agar kasih Natal benar-benar memulihkan hidup mereka. (Enrico Letsoin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *