Papua Barat

Peneliti Unipa dan Prof Tim Flannery Bahas Konservasi Mamalia Papua dan Solusi Iklim Berbasis Alam

614
×

Peneliti Unipa dan Prof Tim Flannery Bahas Konservasi Mamalia Papua dan Solusi Iklim Berbasis Alam

Sebarkan artikel ini
Dosen dan peneliti mamalia PapuaDari kiri: Prof. Tim Flannery, Dr. Agustina Arobaya dan Freddy Pattiselanno. FOTO: RUSTAM MADUBUN.PAPUADALAMBERITA.COM

PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Dialog ilmiah antara dosen dan peneliti mamalia Universitas Papua (UNIPA) Manokwari Freddy Pattiselanno bersama pakar mamalia dunia Prof. Tim Flannery, penulis buku Mammals of New Guinea, menegaskan pentingnya konservasi keanekaragaman hayati Papua dalam mendukung solusi iklim berbasis alam (Nature-Based Climate Solutions/NbCS).

Pertemuan dan wawancara berlangsung di sela kegiatan Simposium Internasional Flora Malesiana ke-12 dan Konferensi Internasional Solusi Berbasis Alam, yang resmi dibuka di Gedung PKK, Kompleks Kantor Gubernur Papua Barat, Arfai, Manokwari, Senin (9/2/2026).

Forum internasional tersebut mempertemukan ilmuwan, pembuat kebijakan, pemimpin adat, dan praktisi konservasi untuk membahas peran biodiversitas dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta pembangunan berkelanjutan.

Prof. Tim Flannery, Guru Besar pada Melbourne Sustainable Society Institute, University of Melbourne, menekankan bahwa kawasan Papua merupakan salah satu pusat keanekaragaman mamalia tropis dunia dengan tingkat endemisitas tinggi, sehingga upaya konservasi berbasis sains menjadi sangat krusial.

“Papua memiliki kekayaan fauna endemik yang sangat penting secara global. Perlindungan habitat dan riset jangka panjang menjadi kunci menjaga stabilitas ekosistem sekaligus mendukung solusi iklim berbasis alam,” ujarnya.

Dalam dialog tersebut, tim peneliti mamalia dari Fakultas Peternakan UNIPA yang dipimpin Dr. Freddy Pattiselanno juga memaparkan temuan terbaru terkait spesies endemik. Pada survei lapangan akhir 2025, tim berhasil mendokumentasikan kembali keberadaan Tikus Raksasa Biak (Uromys boeadi), yang sebelumnya diduga punah.

Spesimen tikus raksasa Biak yang berhasil didokumentasikan. FOTO: DOKUMENTASI FREDDY PATTISELANNO.PAPUADALAMBERITA

Dokumentasi spesies itu diperoleh melalui survei biodiversitas di Biak, Supiori, dan pulau-pulau satelit, termasuk Pulau Owi, yang merupakan bagian dari bentang habitat alaminya. Penelitian dilakukan dengan pendekatan survei ekologis, penelusuran jejak, serta dokumentasi spesimen dan bukti visual di lapangan.

Riset tersebut didukung pendanaan dari Asian Species Action Partnership (ASAP) dan dinilai berhasil menutup kekosongan data (data gap) mengenai status keberadaan spesies tersebut.

“Temuan ini menjadi dasar penting untuk kajian lanjutan mengenai populasi, sebaran, dan status konservasi Uromys boeadi,” kata Pattiselanno.

Prof. Flannery dan tim peneliti UNIPA sepakat mendorong kolaborasi riset lanjutan, termasuk penguatan jejaring internasional dan pencarian dukungan pendanaan untuk studi populasi, genetika, dan ekologi spesies endemik Papua.

Data tersebut akan menjadi rujukan dalam pembaruan status konservasi dan strategi perlindungan habitat.

Dialog ilmiah ini menegaskan bahwa perlindungan keanekaragaman hayati, khususnya mamalia endemik Papua, tidak hanya penting bagi ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi global menghadapi perubahan iklim melalui pendekatan berbasis alam.(rustam madubun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *