PAPUADALAMBERITA.COM. FAKFAK – Dalam keheningan yang sarat makna, ribuan umat Katolik di Paroki Santo Yosep Fakfak mengikuti perayaan Jumat Agung pada Jumat (23/4/2026). Ibadat yang merupakan bagian sentral dari Tri Hari Suci ini berlangsung khidmat, dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Manokwari – Sorong (KMS), Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr., dengan didampingi Pastor Paroki, Pastor Alex Fabianus, Pr.
Suasana duka Gereja terasa kuat sejak awal prosesi. Tanpa iringan lagu pembuka maupun sapaan meriah, Mgr. Hilarion bersama para petugas liturgi memasuki gereja dalam keheningan total, lalu bersujud di depan altar. Tindakan prostrasi ini menjadi simbol kerendahan hati sekaligus ungkapan duka mendalam atas sengsara dan wafat Yesus Kristus.
Jumat Agung bagi umat Katolik bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah, melainkan momen untuk masuk ke dalam misteri penderitaan Kristus. Rangkaian ibadat dilanjutkan dengan Liturgi Sabda, yang berpuncak pada pembacaan Kisah Sengsara (Pasio) menurut Injil Yohanes. Melalui Pasio, umat diajak merenungkan detik-detik penderitaan Kristus, mulai dari Taman Getsemani hingga wafat-Nya di kayu salib.
Dalam permenungannya, Mgr. Hilarion Datus Lega menegaskan bahwa Jumat Agung adalah panggilan untuk menghidupi kasih secara konkret. ”Jumat Agung bukan hanya mengenang penderitaan Tuhan, tetapi menjadi momentum untuk meneladani kasih-Nya dalam keseharian. Kasih itu nyata dalam sikap pengampunan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama,” ungkap pimpinan umat Katolik Keuskupan Manokwari – Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega.
Dia juga berpesan agar umat berani memikul “salib” kehidupan dengan iman, seraya percaya bahwa penderitaan bukanlah akhir dari segalanya. Selain pesan iman, Uskup KMS juga menyoroti pentingnya merawat harmoni sosial di Indonesia yang majemuk.
Suasana Perayaan Jumat Agung Yang Dipimpim Uskup Keuskupan Manokwari – Sorong Mrg. Hilarion Datus Lega, Pr, Berlangsung di Gereja Katolik Paroki Santo Yosep Fakfak. Jumat (03/04/2026). FOTO : ISTIMEWA. PAPUADALAMBERITA.COM.
Dihadapan umat Katolik Paroki St. Yosep Fakfak, Uskup Mrg Hilarion menekankan bahwa toleransi harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar slogan, guna menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Salah satu momen paling menyentuh adalah upacara penghormatan salib. Saat salib diarak dan diperlihatkan kepada umat, seruan “Lihatlah kayu salib, di sini tergantung Kristus, Penyelamat dunia” menggema, mengundang umat untuk memberikan penghormatan secara personal melalui sujud atau mencium salib sebagai tanda syukur dan penyesalan.
Ibadat kemudian dilanjutkan dengan Doa Umat Meriah yang mendoakan berbagai intensi dunia, serta penerimaan Komuni Suci. Sakramen Mahakudus yang telah dikonsekrasi pada Kamis Putih dibawa kembali ke altar dalam prosesi yang hening dan penuh hormat.
Perayaan Jumat Agung diakhiri tanpa berkat penutup dan dalam keheningan panjang. Gereja seakan “berdiam diri” dalam duka, mempersiapkan diri memasuki Sabtu Suci sebelum merayakan kemenangan atas maut pada Hari Raya Paskah.
Melalui perayaan Jumat Agung di Paroki Santo Yosep Fakfak ini, umat diajak untuk memperbarui komitmen hidup sebagai pengikut Kristus yang membawa harapan bagi sesama, menyadari bahwa di balik setiap salib, selalu ada janji kebangkitan.(Enrico Letsoin)













