In Memoriam Lasarus Ullo, S.P., M.Si:
PAPUADALAMBERITA.COM, MANOKWARI – Pagi-pagi di tanah Papua Barat selalu punya caranya sendiri untuk menyapa, sunyi yang hangat, udara yang lembut, dan langkah-langkah manusia yang berjalan dengan harapan.
Di antara rutinitas itu, ada satu sosok yang kehadirannya terasa sederhana, namun membekas begitu dalam: Lasarus Ullo.
Ia bukan sekadar Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Papua Barat.
Bagi kami, para jurnalis yang sering bersinggungan dengannya, ia adalah wajah keramahan yang tidak dibuat-buat, sosok yang menghadirkan rasa dihargai, bahkan sebelum percakapan dimulai.
Ciri khasnya begitu lekat: senyum, sapa, dan salam.
“Selamat pagi, sehat selalu,” ucapnya ringan, sembari menjabat tangan dengan hangat. Senyum itu tak pernah absen, seolah menjadi bahasa yang lebih dulu berbicara daripada kata-kata.
Dalam dunia birokrasi yang sering terasa berjarak, Pak Las justru hadir sebagai jembatan: supel, santun, dan jauh dari kesan angkuh.
Ia enak diajak bercerita.
Tak pernah terburu-buru mengakhiri percakapan, seakan setiap orang yang datang kepadanya adalah penting.
Di tengah kesibukannya sebagai pimpinan Organisasi Perangkat Daerah, ia dikenal sebagai sosok yang tidak pelit informasi. Kapan saja, di mana saja, ia melayani.
Setiap pertanyaan yang kami ajukan, dijawabnya dengan rinci. Bukan sekadar jawaban formal, tetapi penjelasan yang utuh, bahkan sering kali disertai data yang ia kirimkan sendiri, tentang pangan, operasi pasar, hingga ketersediaan bahan pokok.
Ada kesungguhan di sana, ada tanggung jawab yang dijalankan dengan hati.
Di kalangan pejabat Pemerintah Provinsi Papua Barat, ia akrab disapa “Pak Las.” Panggilan sederhana yang mencerminkan kedekatan. Tidak ada sekat yang ia bangun, tidak ada jarak yang ia pelihara.
Namun, bagi saya, ketulusan Pak Las tidak hanya terlihat di balik meja kerja atau dalam wawancara resmi.
Ia pernah hadir dalam sebuah momen kecil, nyaris tak terlihat, tetapi justru paling bermakna.
Pagi itu, Senin 19 Agustus 2024, atau dua tahun lalu setelah peringatan 17 Agustus, halaman Kantor Gubernur Papua Barat masih menyisakan jejak perayaan: sampah berserakan, sisa-sisa euforia yang ditinggalkan.
Saya datang lebih awal untuk meliput apel pagi, Senin (19/8/2024). Udara masih dingin, suasana belum ramai.
Namun, ia sudah lebih dulu ada di sana.
Beberapa staf memang tampak hadir, tetapi pemandangan yang paling membekas adalah sosok Pak Las sendiri, membungkuk, memungut satu per satu sampah yang tercecer di halaman itu. Tanpa perintah, tanpa sorotan, tanpa jarak jabatan.
Seorang kepala dinas, memungut sisa-sisa perayaan, seolah ingin mengajarkan bahwa tanggung jawab tidak pernah mengenal tinggi atau rendahnya posisi.
Saya sempat mengabadikan momen itu. Dan menuliskannya dalam sebuah liputan ringan dengan judul: “Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pungut Sisa Sampah 17 Agustus di Halaman Kantor Gubernur Papua Barat.”
Saat itu, mungkin banyak yang membaca sebagai berita biasa. Namun kini, kenangan itu menjelma menjadi makna, bahwa kesederhanaan adalah bentuk lain dari kebesaran jiwa.
Baca juga: Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pungut Sisa Sampah 17 Agustus di Halaman Kantor Gubernur Papua Barat
Lalu pagi kemarin datang, Selasa, 7 April 2026, pagi yang mengubah segalanya.
Sebuah unggahan di status WhatsApp seorang rekan jurnalis mendadak menghentikan langkah. Foto beliau terpampang, disertai kalimat yang membuat dada sesak:
“Selamat jalan Bapa Kadis Ketahanan Pangan Provinsi Papua Barat, Kerumah Bapak Di Surga, kebaikan bapak selalu kami kenang di dalam hati.”
Di bawahnya, tertera kutipan Mazmur 116:15 “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.”
Saya terdiam. Lama. Kata-kata itu terasa asing, seolah menolak untuk dipercaya.
Beberapa kali saya membacanya ulang, berharap ada kekeliruan, berharap ini hanya kabar yang salah alamat.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, saya menandai unggahan itu dan bertanya, memastikan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin saya dengar kebenarannya.
“Benarkah Bapak Kadis Ketahanan Pangan Papua Barat meninggal dunia?” tanya saya.
Jawaban itu datang, singkat namun menghantam:
“Benar, kaka. Ia meninggal karena sakit.”
Sejenak, dunia terasa hening.
Tak ada lagi sapaan pagi itu. Tak ada lagi senyum yang menyambut dengan tulus.
Tak ada lagi suara hangat yang menjelaskan panjang lebar tentang kondisi pangan daerah ini.
Yang tersisa hanyalah kenangan, tentang seorang pemimpin yang memilih untuk tetap rendah hati di tengah jabatan, tentang seorang manusia yang menghargai sesamanya tanpa syarat.
Tentang seseorang yang bahkan dalam hal sederhana seperti memungut sampah, mampu meninggalkan pelajaran tentang makna kepemimpinan.
Kepergian Pak Las bukan hanya kehilangan bagi keluarga dan pemerintahan.
Ia adalah kehilangan bagi rasa kemanusiaan itu sendiri, tentang bagaimana seharusnya seorang pemimpin hadir: dekat, tulus, dan penuh empati.
Selamat jalan, Bapak Lasarus Ullo.
Senyummu mungkin telah pergi, tetapi hangatnya akan tetap tinggal, di hati kami yang pernah merasakannya.(rustam madubun)













