fbpx
Sekertaris DPD KNPI Papua Barat, Jeferson Jimmi Liunsanda. FOTO: ISTIMEWA/papuadalamberita.com. PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Tragedi penolakan dan pelarangan perayaan ibadah Natal di Sungai Tambang, Kabupaten... Tragedi Sumatera Barat “Negara Harus Hadir”

Sekertaris DPD KNPI Papua Barat, Jeferson Jimmi Liunsanda. FOTO: ISTIMEWA/papuadalamberita.com.

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Tragedi penolakan dan pelarangan perayaan ibadah Natal di Sungai Tambang, Kabupaten Sijunjung dan Jorong Kampung Baru, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat ditanggapi serius Dewan Pengurus Daerah KNPI Papua Barat.

Sekertaris DPD KNPI Papua Barat, Jeferson Jimmi Liunsanda melalui keterangan persnya yang diterima media ini, Minggu (22/12/2019) mengatakan, negara gagal melindungi umat beragama dalam beribadah dan menjalankan agamanya  termasuk adanya pelarangan perayaan Natal di Sumatera Barat.

“Saya berkesimpulan demikian. Mengapa setiap kali mendekati perayaan hari-hari besar keagamaan di Negara ini selalu ada pernyataan dan sikap warga negara untuk mengganggu bahkan melarang perayaan-perayaan hari-hari besar keagamaan..? rupanya manivesto Kebangsaan kita belum tuntas.” Tegas Liunsanda dengan nada tanya.

“Pemerintah seharusnya mempunyai komitmen untuk melindungi setiap warga negara untuk melakukan ibadah dan menjalankan agamanya.  Adanya kasus seperti ini di dua kabupaten, artinya pemerintah telah gagal melindungi umat beragama dlm melaksanakan aktifitas keagamaan.” ujarnya.

Lanjut Dia, Negara selalu mendorong rakyatnya untuk menjadikan Pancasila dan toleransi sebagai landasan utama kerukunan dalam Kebhinnekaan, namun kadang Negara tidak mampu menunjukan kehadirannya pada ruang intoleransi.

Serta diskriminasi termasuk melindungi setiap warga negara untuk beribadah, Pancasila, semestinya mampu menyatukan umat beragama, dan pemerintah wajib melindungi hak setiap warga melakukan ibadah.

Jika ada gangguan ibadah, maka negara melalui pemerintah daerah dan kepolisian harus melindungi masyarakat dalam beribadah, bukan adanya pembiaran terhadap adanya upaya pelarangan beribadah.

“Kami menolak dan menyayangkan peristiwa ini. Kami meminta kepada Negara melalui Pemerintah dan Kepolisian agar menyongsong Hari Natal 2019  ini untuk memberi jaminan keamanan. Jangan lagi ada peristiwa-peristiwa seperti ini, stop bicara pancasila kalau masih saja ada intimidasi dan diskriminasi.” tandasnya.

Sebagai sesama anak Bangsa harusnya saling menghargai dan menghormati, hidup dalam kebhinnekaan adalah kerinduan semua orang.(tam)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Tidak Bisa Dicopy !!