Papua

Bagian (7) Mei 1996 Pesta Pembebasan Yang Mencekam: Navy dan Matheis Meninggal, “Tolong Saya Sandera” “Kami ABRI Batlyon 330”

629
×

Bagian (7) Mei 1996 Pesta Pembebasan Yang Mencekam: Navy dan Matheis Meninggal, “Tolong Saya Sandera” “Kami ABRI Batlyon 330”

Sebarkan artikel ini
Pimpinan OPM Kelik Kwalik saat menyambut Tim ICRC, Palang Merah Internasional di Desa Mapunduma Irian Jaya pada Mei 1996. Tampak Adinda Arimbi Saraswati (kacamata) dan sejumlah Sandera. FOTO: TANGKAPAN LAYAR Buku Sandera 130 hari terperangkap di Mapunduma.

PAPUADALAMBERITA.COM. Kupikir Navy pernah menolong Silas waktu Silas sakit hampir mati. Navy memberi obat, merawat, memijiti, bahkan memberikan baju serta selimut. Kukira Silas ingat pada jasa Navy dan mau membantu aku. Kupegang tangan Silas, dia juga memegang tanganku.

Kuamati wajah Silas berubah liar. Kurasakan pegangannya bertambah kencang pada tanganku. Dari pandangan matanya yang buas aku tahu dia mau berbuat sesuatu, barangkali mencabut belati.

Apakah belati berkarat yang kutakuti selama ini akhirnya harus bersarang di dadaku? Aku juga teringat, Silas akan membangun pondok tentulah untuk mengikat kami semua di dalamnya, dibantai

kemudian pondok itu dibakar, dan kami hangus tanpa bekas. Mendadak aku sadar nyawaku terancam. Buru-buru kudorong Silas, lalu menarik Jualita dan lari terbirit-birit ke arah sungai sambil berteriak,

“Tolong…toloooong!”

Entah kutujukan pada siapa permintaan tolong itu, meluncur begitu saja dari mulutku, didorong oleh hatiku. Lalu aku dan Jualita bertemu Mark dan Martha. Markus berada di suatu tempat, jaraknya dari kami kira-kira 10 meter arah menyerong. Dari belakang pengabar injil mau melempar kapaknya ke arah Markus, tapi Markus sempat melompat terjun ke bawah dan bersembunyi.

Mark berseru padaku dan Jualita, “Turun ke bawah belok kiri ada helipad.” Kami tidak tahu kenapa Mark tahu hal itu, tapi kami ikuti Mark dan Martha berlari. Dengan kondisi fisik yang lemah, tidak makan satu minggu, dan luka dalam perutku tidak mungkin rasanya aku berlari secepat itu. Kuasa Tuhanlah yang membawa kami sampai di pinggir sungai. “Kita belok kiri mencari helipad,” teriak Mark.

Aku dan Jualita berlari beriringan menyusuri sungai yang banyak terdapat lubang yang dalam dan lebar. Aku jatuh dua kali dan hampir tenggelam demikian juga Jualita. Sepatuku sebelah kanan terlepas,tak kurasakan lagi betapa sakitnya kaki kananku menjejak. Kami terus berlari sampai dari kejauhan kulihat bayangan hitam-hitam tapi tidak jelas siapa. Aku berteriak-teriak, “Tolong, tolong… saya sandera.”

Salah seorang dari mereka kudengar berseru, “Kami ABRI, Batalyon 330.”

Lega hatiku mengetahui bahwa mereka satuan ABRI. Aku dan Jualita berteriak lebih keras sambil mengangkat tangan, “Saya sandera, saya sandera.” Mereka memapah kami ke tempat yang aman, lalu meminjamkan jaket hijau militer dan sarung yang segera kami pakai untuk mengganti pakaian kami yang basah kuyup dan kotor. Kami juga diberikan teh hangat dan ransum tentara.

Aku, Jualita, Martha, Mark, Annette, Daniel dan Bill telah berkumpul di bawah perlindungan ABRI. Mereka mendata kami satu persatu, “Kamu Saraswati ya?” tanya seseorang anggota pasukan.

Aku bingung, siapa Saraswati? Aku lupa namaku sendiri. “Bukan, saya sandera, saya Adinda.”

“Iya, Adinda Saraswati,” ujarnya.

Aku kaget menyadari bahwa Saraswati itu namaku sendiri yang jarang dipakai orang untuk memanggilku.

“Tolong beritahu nama-nama yang sudah ada di sini, dan yang belum,” pintanya lagi. “Yang dua meninggal, meninggal, GPK bunuh mereka, bunuh mereka,” aku menjerit-jerit teringat nasib Navy dan

Matheis. Aku tak sanggup menjelaskannya dan berseru kepada Mark, “Mark, please tell him.”

Kudengar Mark menjelaskan, “Oke, tolong, jangan bicara dengan Adinda, dia baru saja lihat pembunuhan. “Kami kaget ketika menyadari Markus dan Anna tidak ada bersama kami. Kami mengkhawatirkan Anna yang masih berada di antara para pembunuh, dan Markus yang menjadi incaran Silas dan anak buahnya karena dianggap pengkhianat atau ABRI bisa salah tembak karena Markus orang Irian, wajahnya mirip dengan pasukan GPK-OPM. Tak lama kemudian Markus muncul sambil berteriak-

teriak, “Saya sandera….saya sandera….” Anna menyusul satu jam kemudian. “Saya masih mendengar Tessy mengerang,” lapor Anna dengan napas terengah-engah dan mimik terguncang.

“Selamatkan Tessy… selamatkan Tessy….” Kami serentak berseru-seru kepada Batalyon Kostrad yang melindungi kami itu.

“Kamu punya pistol, ke sana ke sana,” aku menunjuk-nunjuk ke arah bukit, “mereka cuma bawa kapak, parang….”

Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 330, Kapten Agus Rochim, menjelaskan, “Kami tidak mungkin naik ke bukit saat ini. Jumlah pasukan kami hanya 25 orang yang harus dibagi dua, sebagian melindungi kalian yang sudah ditemukan dan sebagian lagi berjaga-jaga di tepi sungai. Kami tidak bisa mengambil risiko jika terjadi penyerangan oleh GPK-OPM yang tidak kami ketahui jumlahnya, untuk merebut kalian yang sudah selamat berada di sini.”

Kami terdiam karena mulai mengerti situasinya. Kemudian beberapa anggota batalyon melakukan penembakan berulang-ulang ke udara memberi peringatan agar GPK-OPM tak mendekat lagi.

Seseorang memotret kami berulang-ulang pula membuat aku menegur dengan keras, “Kenapa foto-foto?!”

Mark membujukku, “Tenang Din, mereka gembira telah menemukan kita, lagipula untuk dokumentasi. Ini pasti operasi militer habis-habisan.”

Aku menarik napas panjang, menyadari bahwa keadaanku masih kacau balau. Ketika cuaca tiba-tiba berubah sangat buruk, hujan dan berkabut, aku kembali berteriak-teriak histeris meminta tolong supaya ada yang mencari Navy dan Matheis. Sementara itu Batalyon 330 berkonsentrasi berhubungan radio memohon tambahan bantuan untuk evakuasi.

Komunikasi di antara mereka tersendat-sendat karena jeleknya cuaca, itu juga merupakan pertanda tidak memungkinkan untuk dilakukannya evakuasi. Hari semakin gelap pada pukul 17.00 WIT, dan berkabut. Pada jarak 5 meter sudah tak terlihat apa-apa. Akhirnya Komandan dan pasukan ABRI sepakat menyiapkan bivak tempat berlindung sementara sebelum evakuasi besok pagi.

Malam itu aku demam tinggi, kakiku yang bengkak diurut oleh seseorang dari tim kesehatan. Kupikir kakiku hanya terkilir, rupanya patah. Kami masih dalam keadaan tegang, baik mantan sandera, maupun Batalyon 330, tetap bersiaga menghadapi kemungkinan serangan dari GPK-OPM yang bernafsu merebut sandera.

Dalam keadaan demikian aku dan Jualita memimpin doa bersama teman-teman sambil menahan napas dan meredam tangis, Batalyon 330 juga mengikuti. Tuhan, bila Kau mengatur bahwa ini adalah penyelesaian dan jawaban atas doa-doa kami selama ini kami berserah hanya padaMu saja.

Kami tahu Navy telah Kau panggil, tapi kami tidak tahu bagaimana dengan Matheis. Jika Kau memang ingin ambil, ambillah, jangan membuat dia lebih menderita lagi, segala sesuatunya kuserahkan hanya padaMu. Amin.

Selamat jalan Navy, selamat jalan Matheis, perjuangan dan pengorbanan kalian berdua untuk kami tidak akan pernah kami lupakan.(rustam madubun) SELESAI.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *