PAPUADALAMBERITA.COM, MANOKWARI – Mereka tidak hafal susunan pemain inti Persipura.
Tidak tahu formasi andalan, tidak mengikuti statistik gol, bahkan tak pernah duduk di tribun Stadion Mandala atau Stadion Lukas Enembe saat laga besar digelar.
Namun pagi tadi, Kamis 5 Februari 2026 mereka datang dengan satu warna kebanggaan: merah dan hitam.
Jersey Persipura , sang Mutiara Hitam ikut “turun ke lapangan”, bukan di arena pertandingan, melainkan di Pulau Mansinam, Provinsi Papua Barat dalam peringatan 171 tahun masuknya Injil di Tanah Papua.
Sejak pagi, antrean panjang terlihat di pelabuhan penyeberangan Manokwari. Bukan antre tiket pertandingan, bukan pula berburu kursi tribun.
Mereka menunggu giliran naik Kapal LCT Cahaya Manokwari untuk menyeberang ke Mansinam, pulau bersejarah di Teluk Doreri, tempat dua misionaris, Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler, pertama kali menginjakkan kaki pada 5 Februari 1855.
Langkah mereka bukan menuju kick-off, melainkan menuju ibadah. Tapi semangatnya tak kalah dari suporter yang hendak mendukung tim kesayangan di partai final.
Di antara kerumunan jemaat, warna merah-hitam tampak mencolok.
Logo Persipura, nama sponsor, hingga nomor punggung menempel gagah di dada para peziarah iman, dari anak-anak hingga orang dewasa.
Jersey itu menjadi simbol identitas, kebanggaan, dan rasa memiliki sebagai orang Papua.
Persipura Jayapura, klub yang berdiri sejak 1963 dan dijuluki Mutiara Hitam, memang bukan sekadar tim sepak bola.
Penyandang 4 bintang ini telah lama menjadi lambang harga diri dan semangat orang Papua , seperti tim yang selalu bermain dengan determinasi tinggi hingga peluit akhir.
“Saya ikut bangga dengan nama besar Persipura, tapi saya tidak hafal nama-nama pemainnya,” kata Siska, warga Manokwari, sambil tersenyum mengenakan jersey merah-hitamnya.
Baginya, mengenakan jersey Persipura bukan soal statistik pertandingan. Itu soal rasa bangga.
Pantauan papuadalamberita.com di Pulau Mansinam menunjukkan cukup banyak jemaat mengenakan jersey Persipura saat mengikuti rangkaian ibadah.
Mereka datang bukan untuk menonton laga, melainkan berdoa dan mengenang jejak awal terang Injil di Papua.
Namun semangat kebersamaan terasa seperti atmosfer stadion saat laga kandang, hangat, kompak, dan penuh energi.
“Semoga Persipura kembali ke Super League. Kami bangga dengan Persipura,” ujar Anton, jemaat lainnya, penuh harap, seperti suporter yang menunggu timnya promosi kembali ke kasta tertinggi.
Di Mansinam hari ini, iman menjadi pertandingan utama. Doa-doa dipanjatkan seperti umpan-umpan harapan.
Lagu pujian bergema seperti chant suporter. Dan jersey merah-hitam menjadi seragam kebanggaan, tanda bahwa identitas Papua tak hanya hidup di lapangan hijau, tetapi juga di perjalanan rohani umatnya.(rustam madubun)













