Papua

Bagian (3) Mei 1996 Pesta Pembebasan Yang Mencekam: Habis Sudah Usaha ICRC Menyelamatkan Kami

474
×

Bagian (3) Mei 1996 Pesta Pembebasan Yang Mencekam: Habis Sudah Usaha ICRC Menyelamatkan Kami

Sebarkan artikel ini
Pimpinan OPM Kelik Kwalik saat menyambut Tim ICRC, Palang Merah Internasional di Desa Mapunduma Irian Jaya pada Mei 1996. Tampak Adinda Arimbi Saraswati (kacamata) dan sejumlah Sandera. FOTO: TANGKAPAN LAYAR Buku Sandera 130 hari terperangkap di Mapunduma.

PAPUADALAMBERITA.COM – Kami sandera wanita dipakaikan rok dari daun, kalung dan gelang dari kayu, dan sandera pria dikalungi gigi-gigi hewan dan di mahkotai bulu-bulu burung, lalu diminta menari bersama dalam pesta adat yang meriah itu.

Lalu ada penyerahan babi dan ayam secara simbolik dari kepala suku dan masyarakat yang keba-yakan keluarga GPK-OPM kepada kami para sandera yang sebentar lagi akan berstatus mantan sandera.

Banyak sekali babi yang didatangkan ke pesta ini, sampai berjumlah 50 ekor, ada puluhan kilo sayuran, 50 karung beras, coklat, dan kue.

Teman-teman pria disuruh memanah babi pada jantungnya, lalu api unggun dinyalakan setinggi 30 kaki di tengah lapangan untuk membakar babi babi.

Kelly Kwalik belum menampakkarn diri, sementara tamu-tamu mi sudah hadir dan menunggu dengan tertib yaitu wakil dari kedutaan Belanda, kedutaan Inggris, wakil dari Palang Merah Indonesia dan juga Ketua lCRC Delegasi Asia Tenggara Henry Fournier, termasuk Dr Ferenc, Dr Patrick, Silvianne, Rene Sutter, datang dengan helikopter dalam tiga kali perjalanan pulang pergi.

Kelly Kwalik muncul memakai jean dengan seragam loreng ber warna oranye, bukan dengan baju kesukaannya berwarna putih vang membuatnya kami beri gelar Marlboro Man, selain karena ia

selalu meminta bagian paling banyak atas rokok Marlboro kiriman ICRC.

Rupanya Kelly Kwalik mengenal juga sopan santun, sebelum menuju podium ia menyalami para tamu yang datang dari jauh dan berdiri berbaris di antara kami.

Ketika Kelly Kwalik melewati Navy dan Navy mengulurkan tangan hendak bersalaman, Kelly

Kwalik menepis, “Ah, kamu tidak usah salaman, kamu bukan tamu, kamu orang saya.

Upacara diawali dengan penaikan bendera GPK-OPM, dilanjut-kan dengan pasukan yang tak berseragam berbaris memberi hormat kepada Kelly Kwalik yang berdiri di podium sebagai panglima sekaligus inspektur upacara.

Kelly Kwalik kemudian membacakan beberapa dokumen, di antaranya berbunyi seperti undang-undang dilengkapi dengarn sumpah yang tidak kami mengerti sepenuhnya karena bahasa Indonesia yang campur aduk.

Aku dengar ketika mereka menyanyikan lagu yang mereka sebut lagu kebangsaan. Nadanya seperti lagu gereja, syairnya serupa bait-bait dalam kidung jemaat atau lagu pujian yang kalau tidak salah terdiri atas 7 bait.

Kalau lagu kebangsaan biasanya harus dinyanyikan syairnya dari awal sampai akhir, mereka boleh memilih bait-bait tertentu, seperti kebaktian digereja. Kali ini mereka menyanyikan bait 1 dan bait 3.

Kelly Kwalik turun dari mimbar, Yudas Daniel Kogoya menggantikannya untuk memberi sambutan berupa ucapan selamat jalan kepada para sandera.

“Ingat dengan kami bila ada di tanah air kamu yang jauh dari sini.” Demikian antara lain ucapan Yudas. Sesaat aku curiga jangan-jangan mereka cuma mau melepas sandera asing yang jauh dari Irian Jaya.

Setelah Yudas melontarkan kalimat kiasan yang membimbangkan itu, Kelly Kwalik kembali ke atas mimbar dan berpidato yang disebut pidato kenegaraan.

Pidato Kelly dalam bahasa Indonesia sangat tidak jelas artinya bagi kami, kedengarannya seperti tidak akan melepas sandera sampai kemerdekaan mereka mendapat pengakuan dari dunia internasional.

Dan inti pidatonya mengutip peribahasa, “Saya minta ubi harus dapat ubi tidak mungkin kami minta ubi dapat ketela.

“Kami sandera Indonesia sangat mengerti makna kalimat itu, yaitu dia minta ubi harus dapat ubi berarti kalau dia minta merdeka harus dapat merdeka. Kami bingung dan cemas pada kemungkinan terjadinya perubahan. Tampaknya upacara pembebasan dengan pesta babi yang menghabiskan dana besar itu dipergunakan Kelly Kwalik untuk “memproklamasikan kemerdekaan’” negara Papua.

Sewaktu terjadi kesepakatan dengan ICRC tidak ada upacara yang mereka sebut upacara kenegaraan itu.

Kelly Kwalik memberikan salinan pidato yang dibacakannya itu kepada wakil dari kedutaan Belanda dan Inggris, bahkan menitipkan selembar untuk Paus di Vatikan.

Sambutan dari Henry Fournier selaku Ketua Delegasi ICRC, wakil dari Palang Merah Indonesia, wakil kedutaan Belanda, dan wakil kedutaan Inggris yang diterjemahkan oleh Silvianne, semuanya mengharapkan pembebasan sandera dapat dilaksanakan dengan damai dan bersahabat.

Delegasi ICRC yang dipimpin Henry Fournier memohon untuk berlangsungnya penyerahan sandera sebagaimana kesepakatan sebelumnya tapi Kelly Kwalik mengisyara tkan bahwa ia harus mengadakan rapat untuk membahas kembali masalah tersebut dengan seluruh pasukannya, dan Delegasi ICRC diminta kembali besok tanggal 9 Mei.

Sesudah itu Kelly Kwalik langsung menarik diri, pergi ke sebuah rumah di perbatasan bukit antara Geselama dan Purua yang terlihat jelas dari tempat kami berkumpul untuk makan bersama yang sudah disiapkan panitia.

Dalam acara makan itu kulihat Anna mendapat potongan daging babi yang besar. Aku berbisik padanya, “Anna daging itu buat saya saja ya.” Anna tertawa, “Ah jangan, sekarang saya sudah suka, Dinda” Waktu sumpah babi Anna menangis dipaksa memakan secuil hati babi, sekarang Anna berselera sekali memakan daging babi sebesar itu.

Menunggu upacara ini selesai sangat lama, kami tak sabar me- nanti akhirnya. Keraguan kami semakin menggunung ketika mende-ngar Titus Murip berkata, “Siapa yang harus pulang, ya pulang, yang tinggal tetap tinggal.

“Perasaanku menjadi sangat tidak enak. “Apa artinya Vy?” tanya-ku pada Navy, tapi Navy tidak menyahut.

Silvianne menyampaikan bahwa ia was-was mendengar penjelasan Yudas tentang pidato Kelly Kwalik.

“Kita minta ubi harus kasih ubi, kita minta nerdeka harus kasih merdeka. Saya minta ubi anda

minta babi, tidak bisa. Harus kasih sama dengan yang saya minta.

“Ternyata pembebasan untuk kami memang tidak jadi dilaksa-nakan. Helikopter penjemput kami berdatangan karena waktu yang ditentukan telah tiba, tapi kami tidak bisa pulang, pasukan GPK-

OPM memperlihatkan sikap bermusuhan.

Kami semua menjadi gelisah termasuk cuaca yang memburuk seperti hati kami, tiba-tiba mendung dan hujan deras turun.

Di tengah cucuran air dari langit itu kami semua mnenangis, tak ada yang tidak menangis, pria juga menangis. Kami berada pada ti-tik paling sedih, paling lelah. Habis sudah ketabahan yang kami miliki.

Kami tidakmau tetap tinggal di Geselama, tapi delegasi ICRC terpaksa meninggalkan kami.

Aku melihat wakil dari Indonesia langsung melompat naik helikopter, tanpa berpamitan pada kami.

Dr Patrick menunjukkan simpatinya dengan memelukku.

Kusergap dengan kata-kata, “Kamu jangan pergi. Jangan tinggalkan kami.” Jawab Dr. Patrick, “Tidak bisa Dinda, tidak mungkin, saya harus pergi “Memang tidak mungkin.

Sedangkan Dr Ferenc semula punya rencana tinggal bersama kami, tapi segera membatalkan karena Tiskan, nanti dia bisa menjadi sandera tambahan.

FHelikopter-helikopter yang akan menerbangkan kami ke kebe-basan berputar-putar di atas kepala.

Annette yang kurang memahami bahasa Indonesia mengira aku menangis karena terlalu senang memperoleh kebebasan. Lama-lama dia bertanya, What s wrong?”

Aku terus menangis, tidak menjawab. M Martha mnenepuk bahu Annette sambil menjelaskan dalam bahasa Inggris, “Kita tidak bisa pulang kita tetap di tangan GPK-OPM.”

Annette kontan meratap, “Tadi saya begitu yakin akan behas Saya bahkan bersedia menari tanpa bra seperti wanita pribumi, asal bisa bebas.”

Daniel berseru menyatakan, “Saya bersedia membiarkan di saya dicat hijau dan berlari telanjang andai itulah yang diperlukan untuk bisa pulang ke rumah.”

Dengan muka merah dan mata basah Bill menggeram, “Mereka tidak pernah menyandang tanggung jawab dan tidak akan pernah membuat keputusan. Karena tidak ada tradisi keputusan, maka reaksi dini mereka terhadap sebuah krisis adalah mengelak.

“Tidak ada gunanya menangis, tidak ada perlunya bertelanjang, bahkan menggeram tak purnya arti apapun, yang mendesak adalah mencari tempat berteduh di gereja. Kami melihat di kantor gereja

ada papan tulis bertulisan susunan kabinet, Presiden Kelly Kwalik, Panglimanya Yudas Daniel Kogoya, Menteri Pertahanan dan Keamanan Daud, Menteri Keuangan Elmin Silas Kogoya.

“Negara macam apa yang mereka mau bikin?” bisik Navy di telingaku. Aku tersenyum pahit.

Saking kesalnya Navy berkata pada Silas, “Coba Pak Silas pikir, kalau satu negara dipimpin orang seperti bapak-bapak yang menyandera orang. Bapak-bapak memimpin satu desa pun belum pernah.

Silas mendelik, “Panglima kita bisa atur. Hubungan kita banyak dengan negara lain.

“Kami digiring kembali ke tempat penyekapan di honai 1 dan hornai 4, Kamp 18. Justus ikut sedih melihat kami menangis, marat cekehilangan harapan. la mengingatkan kami tentang informasi yats

pernah diberikannya, “Benar tidak Ibu, saya bilang tidak due pembebasan.

“Vy, benar kata Justus.” Aku menoleh kepada Navy.

Navy hanya mengangguk.

Keadaanku menjadi lebih sulit karena ransel berisi obat-obatku pemberian Dr Patrick tertinggal di Geselama. Semula memang akan kutinggalkan, karena kukira tidak kubutuhkan lagi. Aku bakal bebas dan mendapat perawatan di rumah sakit. Sekarang aku kuatir penya-kitku sampai ke titik kritis, sejak siang tadi aku demam karena ínfeksi.

“Abel, tolong carikan obat-obat Dinda di gereja. Dia bisa mati kalau tidak ada obat,” pinta Navy pada Abel Wandikbo, pemilik honai.

Abel pergi sebentar, lalu kembali lagi. “Tidak ada Pak Napi,” jawabnya ringan.

“Sudahlah Vy, akan saya coba bertahan hidup tanpa obat,” sergahku. Navy belum menyerah, esoknya menyuruh Nicolas, akhirnya obat itu ditemukan.

Kami mengira akan menetap lagi di Kamp 18, tapi ternyata kami dipaksa berjalan masuk hutan dan menempati Kamp 19 yang telah mereka persiapkan. Menakutkan dan mengenaskan kami memba-

yangkan tidak akan pernah bertemu lagi dengan Delegasi ICRC yang menjadi jembatan penghubung antara kami dengan keluarga dan dunia luar.

Habis sudah usaha ICRC menyelamatkan kami semua, digagalkan oleh kekejaman, kebodohan dan kelicikan para pemimpin GPK-OPM.

Mereka menggunakan kesempatan untuk berpesta sendiri merayakan apa yang mereka sebut upacara kenegaraan, yang barangkali juga berarti hari proklamasi. Dr. Ferenc sudah bilang alau Usaha ini gagal yang terjadi adalah upaya penyelamatan oleh ABRI.

Dont move and lay down,” pesan Dr. Ferenc. kami mengerti artinya tapi tidak bisa membayangkan bagaimana bila hal itu sampai terjadi.(rustam madubun)  Bersambung ke: Bagian (4) Mei 1996 Pesta Pembebasan Yang Mencekam: Penyelamatan Militer, “Betul Pak Silas, Tentara Marah Karena OPM Ingkar Janji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *