PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Langit Papua seakan ikut merunduk pada Selasa malam, 27 Januari 2026. Dari sebuah rumah di Kompleks Deplat, Jayapura, kabar duka itu beredar pelan lalu menghentak: Marthen Metusala Duaramuri telah berpulang. Legenda itu pergi dengan tenang, meninggalkan jejak panjang dalam sejarah sepak bola Papua dan Indonesia.
Marthen Metusala Duaramuri, atau yang akrab disapa Mettu Duaramuri lahir di Sorong, 25 Maret 1958.
Baca juga: http://Mettu Duaramuri, Warisan Disiplin Sang Legenda di Tanah Mutiara Hitam
Ia bukan sekadar nama dalam daftar pemain lama Persipura Jayapura. Ia adalah denyut nadi, saksi zaman, dan bagian tak terpisahkan dari perjalanan klub kebanggaan Tanah Papua itu.
Kabar kepergian Mettu diterima papuadalamberita.com dari adik, Ridwan Bento Madubun, di Jayapura, Selasa malam.
Tak lama berselang, kabar duka itu pun sampai ke rombongan Tim Persipura Jayapura yang pagi harinya telah bertolak ke Kudus.
Persipura dijadwalkan menghadapi Persiku Kudus pada lanjutan Liga 2, Jumat (30/1/2026). Perjalanan tandang itu kini terasa jauh lebih sunyi.
Ucapan duka datang dari berbagai penjuru negeri. Salah satunya dari pelatih Persipura Rahmad Darmawan.
“Ini kemarin sore saya dengan KK Mettu Duaramuri. Selamat jalan kaka, juga sahabat yang sangat baik hati,” tulisnya dalam grup WhatsApp Rembuk Sepak Bola Nasional, dengan foto keduanya saat di Mandalana Senin (26/1/2026) kemarin.
Jean Tigana dari Irian Jaya
Di masa jayanya, Mettu dikenal sebagai gelandang bertahan tangguh dengan stamina luar biasa dan visi bermain yang jernih.
Ia bahkan dijuluki “Jean Tigana dari Irian Jaya”, merujuk pada gelandang legendaris Prancis era 1980-an yang terkenal ulet, cerdas, dan tak kenal lelah. Julukan itu bukan berlebihan, Mettu adalah otak permainan di lini tengah.
Ia pernah memperkuat Tim Nasional Indonesia dan meraih medali perunggu SEA Games 1981. Bersama nama-nama besar seperti Herry Kiswanto, Rully Nere, Budi Johanes, Mettu menjadi bagian dari generasi emas Timnas.
Salah satu momen bersejarah yang tak terlupakan adalah ketika Indonesia menaklukkan Jepang 4-0 pada Pra-Olimpiade Los Angeles 1984. Di lapangan, Mettu menjadi tembok pertama dan pengatur irama—tenang, disiplin, dan penuh determinasi.
Anak Papua, Mimpi Nasional
Mettu adalah generasi pertama putra Papua yang mendapat kesempatan menimba ilmu sepak bola di Diklat Ragunan, Jakarta. Dari sanalah ia membuktikan bahwa talenta Papua mampu bersaing di level nasional.
Bersama Persipura Jayapura, namanya mulai diukir dalam sejarah.
Pada tahun 1976, ia turut membawa Persipura menjuarai Piala Soeharto setelah menundukkan Persija Jakarta dengan skor dramatis 4-3. Gelar itu menjadi tonggak penting dalam kariernya—dan dalam sejarah Persipura.

FOTO DOK. PRIBADI
Kenangan Terakhir di Pinggir Lapangan
Bagi saya, Mettu bukan hanya legenda yang dibaca dari arsip. Pada Maret 2025, saya sempat mewawancarainya langsung di Stadion Sanggeng, Manokwari, saat ia memimpin Tim Persipura All Star menghadapi Tim All Star Perseman Manokwari.
Di pinggir lapangan itu, Mettu tampil sederhana, tenang, ramah, dan penuh cerita. Ia berbicara tentang Persipura dengan mata berbinar, tentang Papua dengan nada bangga, dan tentang sepak bola sebagai jalan hidup.
Tak ada kesan mantan bintang besar; yang tampak hanyalah seorang kaka sepak bola yang tak pernah berhenti mencintai permainan ini.
Tak ada yang menyangka, pertemuan singkat itu menjadi salah satu wawancara terakhirnya.
Tangkapan layar pemberitaan Mettu Duaramuri di papuadalamberita.com pada Maret 2025. Nama itu kini abadi dalam arsip, kenangan, dan sejarah sepak bola Papua.
FOTO TANGKAPAN LAYAR
Setia Hingga Pinggir Lapangan
Usai gantung sepatu, Mettu tak pernah benar-benar meninggalkan Persipura. Ia memilih tetap mengabdi sebagai asisten pelatih, sebuah peran yang ia jalani dengan kesetiaan dan kerendahan hati.
Sejak musim Liga Indonesia 2000, ketika Persipura berada di ambang degradasi, Mettu ikut bekerja di balik layar. Dari situasi genting, Persipura bangkit. Ia menyaksikan, dan ikut membentuk, era kejayaan Mutiara Hitam.
Empat gelar juara Liga Indonesia diraih Persipura dalam rentang waktu itu, termasuk Torabika Soccer Championship 2016.
Di ruang ganti, Mettu dikenal dekat dengan pemain. Ia bukan hanya pelatih, tetapi juga kakak, sahabat, dan pengayom.
Musim ini, Mettu memang tak lagi berada di bangku tim. Namun jejaknya tetap hidup, dalam sistem, dalam karakter, dan dalam mental juang Persipura.
Mettu Duaramuri adalah gelandang bertahan terbaik pada masanya, dan asisten pelatih yang setia hingga akhir. Lebih dari itu, ia adalah inspirasi. Dari Sorong hingga Jayapura, dari lapangan kampung hingga stadion besar, namanya menjadi cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ia mengajarkan bahwa sepak bola bukan hanya tentang kemenangan, tetapi tentang pengabdian, disiplin, dan cinta yang tak bersyarat.
Selamat jalan, Jean Tigana dari Papua. Terima kasih telah menjaga api sepak bola Tanah Papua tetap menyala.(rustam madubun)













